Berita Terkini

TOKOH KUNINGAN INI APRESIASI AKSI CABUP DUDY DI DEBAT PUBLIK



KUNINGAN - Berperan sebagai pria bertopeng yang rela melepas kekuasaannya demi kejujuran, saat pementasan seni dalam acara Debat Publik Cabup/Cawabup, aksi H Dudy Pamuji mendapat respon positif dari seorang tokoh Kuningan di perantauan, H Atang Sugiyono.

Pria yang sehari-hari bergelut di dunia pendidikan tinggi di Jakarta ini memandang aksi Cabup Dudy sebagai sebuah komunikasi politik yang lembut dan tepat sasaran.

" Teknik penyampaian komitmen pribadi dengan menggunakan seni teatrikal menurut Saya merupakan sebuah kreasi yang sangat inovatif. Karena kalau debat publik hanya dengan pidato penyampaian visi, misi dan program, itu mah sudah biasa dan cenderung normatif, " tutur sesepuh Desa Purwasari, Kecamatan Garawangi ini kepada kuninganreligi.com, Kamis (21/06/2018).

Apa lagi, menurutnya, dalam debat publik, biasanya dibatasi waktu dan berbagai aturan yang ketat. Sehingga, setiap paslon akan kesulitan menjelaskan dalam waktu yang singkat tentang apa yang ada dalam pikirannya.

" Akibatnya, diskusinya kurang tajam dan akan kehilangan esensi, " imbuh Atang.

Ia juga memantau pelaksanaan debat publik tempo hari yang menurutnya kurang gereget. Tapi, Atang juga memaklumi dan memahami hal itu, karena pelaksanaan debat yang dibatasi oleh waktu dan aturan yang ketat.

" Dengan cara teatrikal seperti yang dilakukan oleh paslon No.2 (Dudy-Udin) menurut Saya lebih efektif penyampaian pesannya. Apa lagi subtansinya mengenai KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme-red) yang mudah dicerna, " katanya.

Masyarakat Kuningan, Atang menambahkan, umummya mengetahui bahwa KKN sudah menjadi penyakit kronis dalam pemerintahan yang perlu diobati, obatnya adalah kejujuran.


" Saya menangkap pesan yang disampaikan oleh Paslon Dudy-Udin adalah komitmen khusus untuk menjadi pejabat yang jujur dan ingin memberatas KKN. Tentu setiap paslon memiliki komitmen khusus masing-masing, " tandasnya

Sayangnya, sesal Atang, pesan tersebut tidak bisa ditangkap oleh publik yang tidak bisa masuk ke ruangan debat. Ditambah karena ketiadaan fasilitas layar lebar diluar gedung, bahkan pengeras suara untuk keluar ruangan pun tidak ada. 

" Seharusnya kemarin KPU menyiapkan fasilitas yang memadai. Kasihan masyarakat yang datang dari jauh ingin lihat langsung para jagoannya berdebat, mereka kecewa hanya bisa duduk di luar, " ujar pria berkacamata ini.

Ia mengaku tidak mengerti apa yang menjadi pertimbangan penyelenggara hingga tidak menyediakan fasilitas tersebut.

" Nonton bareng piala dunia saja banyak yang menyediakan layar lebar, apa lagi ini untuk pesta demokrasi yang 5 tahun sekali, mestinya bisa, " selorohnya.(Nars)