Berita Terkini

TERNYATA MASIH ADA AIR DI DESA CIHANJARO


KARANGKANCANA - Setiap musim kemarau datang, beberapa desa di wilayah timur Kabupaten Kuningan terancam kekeringan dan krisis air bersih.
Warga di empat desa, yakni Desa Cihanjaro, Tanjungkerta, Simpayjaya dan Sukasari, Kecamatan Karangkancana mulai kesulitan mendapatkan sumber air untuk keperluan sehari-hari mereka.

Tahun 2017 lalu, warga di empat desa tersebut masih bisa mengharapkan pasokan air dari pipanisasi bantuan DPRPP Provinsi Jawa Barat. Bantuan penyaluran air bersih melalui pipanisasi dari sumber air di bukit gunung tiga itu, meski debitnya kecil, masih bisa membantu warga memperoleh air bersih.

" Dulu, setiap musim kemarau, meski masih dirasakan kurang, warga sini masih bisa memperoleh air dari pipanisasi bantuan pemerintah provinsi. Bahkan ketika ada air mengalir dari bukit itu, sumur-sumur warga pun juga ikut terisi air, " ujar Dartam (54) warga Desa Cihanjaro, ketika kuninganreligi.com menyambangi rumahnya, Sabtu (21/07/2018).

Di musim kemarau tahun 2018 ini, Dartam menambahkan, warga tidak bisa lagi mendapatkan air dari pipa tersebut, karena jaringan pipanisasi di bukit tersebut, sepanjang 350 meter, hanyut terbawa material longsor, ketika bencana pergerakan tanah di Desa Jabranti terjadi, Bulan Februari lalu.

Dartam (54) saat memberi keterangan tentang kondisi air di
Desa Cihanjaro kepada kuninganreligi.com
" Saya bersama aparat desa biasanya membetulkan saluran air dari bukit tersebut, jika debit air dirasa kurang oleh warga, " paparnya.

Dari pantauan kuninganreligi.com di pemukiman warga Desa Cihanjaro yang diberitakan mengalami kekeringan, ternyata tidak separah musibah kekeringan beberapa tahun yang lalu.

Awal kemarau ini, di beberapa rumah, sumur-sumur warga masih memiliki air yang cukup untuk keperluan mereka sehari-hari. Hanya saja, untuk sumur yang kedalamannya kurang, memang tidak mengeluarkan air.

Di desa tersebut juga masih ada sumber air yang bisa diharapkan warga untuk mendapatkan air bersih yang letaknya agak jauh dari pemukiman.

" Masih ada air mah, cuman, beberapa warga sekarang jadi malas untuk menempuh jarak yang agak jauh agar bisa mendapatkan air. Kalau dulu, warga masih rela berjalan kaki ke sumber air tersebut, " kata Dartam.

Memang, jika untuk sekedar keperluan MCK, masih kata Dartam, air di sungai pun masih terbilang bersih. Namun, hanya beberapa warga yang memanfaatkan air sungai itu, untuk mencuci pakaian di pagi hari.

" Di dekat sungai itu pun masih ada airnya. Jika warga mau menggali sedikit saja, pasti airnya sudah keluar, " ujarnya sambil menunjuk lokasi sumber air di dekat sungai.

Hanya saja, Dartam dan warga lainnya tetap berharap, agar jaringan pipanisasi dari bukit tempat sumber air di wilayahnya bisa segera diperbaiki lagi.

" Syukur-syukur kalau pipanya bisa ditambah dan tidak ada pembagian lagi untuk empat desa, tapi satu desa satu sumber air melalui pipa masing-masing, sehingga debit airnya bisa besar, " tukas Dartam.

Terpisah, Kepala Desa Cihanjaro, Asep Bambang, saat dikonfirmasi kuninganreligi.com, membenarkan bahwa jaringan pipanisasi bantuan dari DPRPP Provinsi Jawa Barat yang membantu persediaan air bersih warga mengalami kerusakan akibat bencana.

" Iya Kang, terkena bencana di Jabranti pada Bulan Februari lalu, " jelas Asep melalui pesan singkat media sosial.
Salah satu sumur di pemukiman warga, yang kering karena kurangnya kedalaman.
Seperti diberitakan sebelumnya oleh berbagai media, warga di beberapa desa di wilayah Kuningan timur mengalami musibah kekeringan dan terancam krisis air bersih. Setiap tahunnya, daerah tersebut memang selalu mengalami hal serupa, jika musim kemarau tiba.

Namun, hingga saat kuninganreligi.com memantau ke beberapa desa, ternyata hanya sebagian warga saja yang kesulitan mendapatkan air bersih. Itu pun, kata warga setempat, hanya masalah cara mereka mendapatkannya saja, sedangkan air permukaan ternyata masih cukup, jika mereka mau mengusahakannya.

Sedangkan, untuk lahan pertanian, warga biasanya sengaja tidak menanami lahan mereka selama musim kemarau. Selain karena stok air dari irigasi sangat minim, warga pun enggan jika hasil tanaman mereka tidak maksimal saat panen tiba. (Nars)