Ujung Jari Putus, Sopir Pasukan Kuning Laporkan Oknum Sopir Taksi Online ke Polisi




KUNINGAN - Seorang sopir truk pengangkut sampah, Dinas LH Kuningan, Momon Abdurrahman (40 tahun), mengadukan oknum sopir angkutan online WH, ke polisi, Jum'at (29/11/2019), karena diduga telah melakukan tindakan penganiayaan pada dirinya.

Akibat perbuatan  WH, Momon harus kehilangan ujung jari jempol kirinya, diduga karena digigit yang bersangkutan saat terlibat cekcok.

Momon, korban,  menuturkan kronologi keributan antara dirinya dengan oknum sopir taksi online tersebut.



"Awalnya saat saya memarkirkan truk untuk mengangkut sampah di gang dekat Kampus Uniku, Jalan Pramuka, dianggap pelaku menghalangi mobilnya yang juga akan masuk gang," ungkapnya.

Pelaku, imbuhnya, lalu menegurnya karena dianggap tidak menghormati pelaku saat mengemudikan truk sampahnya.

Selang beberapa saat kemudian, kata dia, pelaku menghampirinya yang masih duduk di belakang kemudi. Lalu, pelaku tiba-tiba, memarahi dirinya dan memukul pipi kanannya.

"Saya hanya terdiam dan minta maaf jika perilaku saya mengganggu pelaku. Pelaku sempat pergi setelah melakukan pemukulan, " ucap Momon yang sudah bekerja jadi pasukan kuning sejak tahun 1996 itu.

Namun, sesaat kemudian korban baru sadar bahwa Ia mendapat perlakuan yang merugikan dirinya. Kemudian korban menghampiri pelaku, dan terjadilah perkelahian.

"Kami sempat memisah perkelahian mereka, namun, kami terkejut saat pelaku memuntahkan potongan jari jempol korban dari mulutnya, " ujar Yusuf, salah seorang rekan kerja Korban.

Kejadian perkelahian itu sempat ramai dan diketahui aparat kepolisian. Korban lalu memeriksakan jari jempolnya yang berdarah ke UGD RS Wijaya dan melakukan visum.

Hingga berita ini ditulis, kedua pihak masih dalam pemeriksaan berita acara perkara yang di ruang Satuan Reskrim Polres Kuningan.



Sementara, Kasubag Program Dinas LH Kuningan, Andri Arga Kusuma, saat dimintai tanggapan, bahwa bawahannya sedang bekerja sesuai jadwal dan SOP yang ada.

"Truk sampah itu kan pasti berhenti di mana ada tumpukan sampah yang harus diangkut. Sudah sesuai pekerjaannya. Lantas jika dianggap mengganggu akses kendaraan lain, ya seharusnya tidak ada sikap arogansi. Mau bagaimana lagi karena sudah begitu kerjanya pengangkut sampah, " tuturnya.(Nars)

No comments

Powered by Blogger.