Tak Bisa Memasak Nasi, Kakek Kadma Makan Mie Instan Setiap Hari


KUNINGAN - Meski dari latar belakang partai yang berbeda, dua orang anggota DPRD Kuningan, Sri Laelasari (Aleg Fraksi Gerindra Bintang) dan Susanto (Aleg Fraksi PKB), kompak untuk turun ke lapangan saat mendapat laporan adanya warga yang membutuhkan uluran tangan.

Adalah Kakek Kadma, 77 tahun, warga RT 09 RW 02, Lingkungan Mukti Kelurahan Ciporang, Kecamatan Kuningan, yang hidup sebatangkara di sebuah gubuk di tengah kebun yang agak jauh dari rumah warga sekitar.

Pada Senin (27/01/2020), Sri Laelasari dan Susanto, bersama beberapa awak media mencoba menindaklanjuti informasi tentang kepiluan hidup pria lansia tersebut.

Saat dikunjungi, Kakek Kadma sedang duduk di depan pintu gubuk yang terbuat dari setengah tembok, papan GRC dan setengah bilik bambu miliknya. Sang Kakek sedang memperhatikan anak sulungnya, Sulaeman, sedang membuat penutup sumur di depan gubuknya.

Dia hanya bisa duduk, karena kedua kakinya sudah beberapa tahun ini tidak bisa digerakkan untuk berdiri menopanng tubuhnya.

Mengetahui rombongan Kami datang, Kakek Kadma tiba-tiba menangis dan langsung mencurahkan pahitnya kehidupan yang sedang dialaminya.

Sontak saja, Kami langsung menghibur Kakek Kadma untuk tetap tegar dan mencoba menjelaskan maksud kedatangan kami.

"Abah mah tos teu tiasa kamamana, lumpuh, dahar ge jeung mi bae, teu bisa masak sangu da teu aya listrik," ungkap Kakek Kadma.

Ia juga menuturkan kondisi ekonomi hidupnya dan anak-anaknya, yang tidak bisa membangun rumah layak hingga saat ini.



"Abah mah ngan sumerah diri bae, sare oge sorangan digurumut sireum,mangga wae rek didahar oge," ujarnya pasrah.

Abah Kadma kini tak bisa berbuat banyak, Ia hanya bisa duduk terdiam dan bersabar atas apa yang dialaminya sekarang.

Kondisi gubuk Kakek Kadma di bagian belakang tertutup bilik bambu yang di bagian bawahnya  bolong-bolong. Dua ruangan di bagian dalam hanya satu ruangan yang ditempati. Di ruang bagian depan terdapat kasur di lantai yang hanya sebagian bersemen, sisanya tanah.

Terlihat, ada satu set kompor gas melon satu tungku dan peralatan dapur yang sudah menghitam tepat di pinggir tempat tidur Kakek Kadma. Sisanya, pakaian lusuh teronggok tak karuan di sebuah kursi panjang.

Kepada rombongan kami, Kakek Kadma hanya memohon dibantu adanya aliran listrik masuk ke gubuknya, agar bisa terang di malam hari dan bisa memasak nasi.

Bantuan lainnya, Ia tidak berharap banyak, dan mengaku sudah rela hidup dalam kondisi seperti itu.

Terenyuh melihat kondisi yang ada, Sri Laelasari berjanji akan mengupayakan membantu kesulitan Kakek Kadma. 

"Kita akan coba dorong agar Kakek Kadma bisa segera mendapatkan apa yang diinginkannya. Pertama soal adanya aliran litrik PLN ke rumahnya," kata Sri kepada kuninganreligi.com

Dirinya berjanji akan optimal membantu mencari solusi hingga permasalahan hidup Kakek Kadma teratasi.

Hal senada diungkapkan Susanto, yang lebih menyoroti tentang kepekaan pemerintah daerah pada warga yang kekurangan.

"Tidak ada yang perlu dipersalahkan, mari kita sama-sama membantu mereka, karena kemiskinan bukanlah sebuah aib, tapi ini harus segera dibantu," ujar Susanto.



Sementara, Kepala Kelurahan Ciporang, Hj Ini Nuryani,  saat ditemui di ruang kerjanya, mengatakan bahwa dirinya baru satu pekan efektif bekerja sebagai kepala kelurahan.

"Kami akan segera melakukan upaya untuk membantu kesulitan  Kakek Kadma," katanya.

Menurut informasi, pihak pemerintahan kelurahan sebelumnya, sebenarnya sudah beberapa kali memberikan bantuan pada Kakek Kadma. Namun rupanya bantuan tersebut belumlah bisa mengangkat Kakek Kadma dari kesulitan hidupnya. (Nars)

No comments

Powered by Blogger.