Forum Komunitas Penggiat Alam Kuningan Kampanyekan Penolakan TAHURA



KUNINGAN - Suasana pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan/Car Free Day (CFD), pada Ahad (01/03/2020) di depan Pendopo Setda Kuningan terlihat pemandangan yang berbeda dari biasanya.

Puluhan anak muda mengenakan seragam pecinta alam dan syal melingkar di leher, nampak berjejer di sekitar Taman Pandapa, mendengarkan pemaparan tentang pentingnya Hutan untuk kehidupan.

Pagi itu, mereka yang tergabung dalam Forum Komunitas Penggiat Alam Kuningan (FKPAK) sedang menggelar Kampanye Lingkungan Tolak TAHURA. Tema kegiatan yang diambil adalah "Jangan Korbankan Hutan Demi Uang".



Kampanye Lingkungan yang mereka lakukan itu,  menyusul adanya wacana dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan yang akan merubah fungsi hutan Gunung Ciremai dari Taman Nasional ke Taman Hutan Raya (TAHURA).


Pengisi materi, sesepuh penggiat Pecinta Alam Kuningan, Maman Mezique, nampak serius menjelaskan point per point terkait pentingnya mempertahankan fungsi hutan Gunung Ciremai agar tetap lestari untuk kehidupan warga Kuningan khususnya.

"Kita simpel saja, lebih ke arah regulasi, kita bukan mau berpihak ke TN, tapi ketika TN diterapkan, regulasinya cukup kuat untuk mempertahankan perlindungan hutan Ciremai," papar Mezique.

Sementara, di TAHURA, imbuhnya, regulasi tersebut menurun. Kekhawatiran pihaknya, ketika ada penurunan regulasi itu, bisa menjadi celah masuknya investor besar untuk bebas mengelola hutan Ciremai.

"Mereka (investor-red) akan mudah masuk, dengan kekuatan modal gede, yang memungkinkan apa pun bisa dibeli, termasuk undang-undang," tandasnya.


Secara ekologi dan ekosistem, masuknya investor tersebut, kata Maman, tidak mungkin membuka usaha skala kecil. Mereka pasti akan mengelola usaha dari hulu ke hilir, yang bisa mengesampingkan peran warga sekitar hutan sendiri.

"Paling warganya hanya akan jadi tukang parkir, tukang jaga karcis, atau sekuriti. Ini yang kami khawatirkan," ungkapnya merasa miris.

Pihaknya mengajak warga untuk ikut menyelamatkan Ciremai dengan mendukung konsep yang benar. Apakah warga akan memilih TN ataukah TAHURA, Maman menyebutkan tidak ada pemaksaan.

"Ini kan keputusan bersama karena resikonya juga ditanggung bersama. Jangan sampai ini diputuskan oleh satu orang pejabat ataukah golongan tertentu," tandasnya lagi.



Sementara, koordinator kegiatan, Rizki, menjelaskan bahwa digelarnya kampanye itu bertujuan untuk mengedukasi warga agar bisa menilai baik-buruknya rencana perubahan fungsi hutan Gunung Ciremai dari TN ke TAHURA.

"Kami hanya memberi edukasi, biar masyarakat menilai sendiri, mana yang cocok diterapkan untuk kelestarian hutan Ciremai, apakah TN ataukah TAHURA," ujarnya.

Terpantau di lokasi, selain pemaparan, Kampanye tersebut diisi juga dengan Happening Art yang memajang patung terbuat dari plastik berbentuk manusia. Tulisan "Lestari", "Investor" dan "PAD" nampak jelas digantungkan pada patung yang dipajang di depan Pendopo Setda Kuningan itu. (Nars)

No comments

Powered by Blogger.