Akhir Pekan, Bisa Lihat Matahari Terbit di Puncak Waja Kopi Sukageuri


KUNINGAN - Pelopor bangkitnya kembali kopi lokal Kuningan Jawa Barat, Waja Kopi, terus mengembangkan konsep usahanya. Selain berkomitmen membantu perekonomian petani kopi Kuningan, Waja Kopi juga bercita-cita menduniakan kopi lokal Kuningan dan sektor pariwisata di kaki Gunung Ciremai.

Dengan membawa tagline #ngopidiketinggian, tempat kongkow di kaki Gunung Ciremai yang belokasi di Kawasan Obyek Wisata Sukageuri View, Desa Cisantana ini, menambah kembali konsep cara menikmati kopi bagi pengunjungnya.



Untuk setiap akhir pekan, Sabtu-Ahad, di lokasi Waja Kopi Sukageuri, pengunjung bisa datang dari pukul 05:00 pagi untuk bisa ngopi sambil melihat pemandangan sunrise (matahari terbit).

Dani Ramdhani, salah seorang pengelola Kedai Waja Kopi, mengatakan bahwa konsep Sunrise Point baru dibukanya beberapa waktu ini. Karena letak kedai Waja Kopi berada di ketinggian 1.078 meter diatas permukaan laut, pengunjung bisa melihat detik-detik matahari terbit dengan jelas.

"Pemandangan dari ketinggian Puncak Waja Kopi ini selain bisa melihat Kuningan juga bisa melihat hamparan Kota Cirebon dari atas. Di malam hari sangat indah melihat  kelap-kelip lampu di pemukiman warga, sedangkan pagi hari keindahan matahari terbit bisa dinikmati. Inilah yang membedakan Waja Kopi dengan kedai-kedai kopi lainnya, " paparnya.

Bicara nama Waja Kopi, Kang Dhani, sapannya, menjelaskan berasal dari bahasa Sunda Kuno yakni Warugha (tubuh) dan Jagat (semesta) yang berarti tubuhnya semesta.

Mendekati musim kemarau ini, ciri khas wisata alam di Kuningan yang memiliki udara sejuk makin terasa. Bahkan, pada saat-saat tertentu, suhu di Waja Kopi bisa mencapai 14 derajat celcius.

Sejak dibuka pada tahun 2018 lalu, Puncak Waja Kopi semakin jadi buruan para penikmat kopi asli Kuningan. Dari penelusuran pengelola Waja Kopi ini, kebanyakan pengunjung didominasi oleh kaum milenial.

"Kebanyakan pengunjung ada di rentang usia 19-25 tahun. Namun tidak sedikit juga orangtua yang membawa serta keluarganya datang ke sini, " kata Kang Dhani.

Pengunjung yang datang ke Waja Kopi ternyata tidak hanya dari wilayah Kuningan saja. Selain Cirebon, Indramayu dan Majalengka, banyak juga pengunjung dari daerah lain seperti Bandung dan Jakarta.

Untuk bisa masuk ke lokasi Sukageuri View tempat menikmati suasana ngopi di ketinggian ini, pengunjung ditarif Rp 15 ribu per orang. Selain ngopi, pengunjung juga bisa berkeliling di lokasi wisata yang menyajikan wahana seperti lokasi camping, taman edelweiss khas Cigugur serta rumah kelinci.

"Kopi yang kami sajikan, semuanya menggunakan kopi hasil dari petani lokal. Ada jenis kopi robusta dan arabica asli Kuningan. Untuk kopi andalan, ada Kopi Sejagat yang jadi 'signature' di sini, " ucap Dhani.

Di masa pandemi Covid-19 Waja Kopi sempat libur. Namun sejak diterapkannya masa  Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) ini, Waja Kopi dibuka kembali dengan mematuhi Perbup soal Protokol Kesehatan.

"Sementara ini karena AKB, kami membatasi jumlah pengunjung dan jam operasional. Kami close order pada pukul 20:00 WIB, " ujarnya.

Terpisah, salah seorang pengunjung asal Tasikmalaya, Yana (36 tahun), yang mengaku bekerja di Cirebon, sangat menikmati suasana ngopi di Puncak Waja Kopi. Ia sangat merekomendasikan Waja Kopi bagi para penikmat kopi dan pemandangan alam.



"Sebenarnya banyak lokasi buat ngopi, namun untuk suasana ngopi di ketinggian dengan hawa sejuk, Saya baru menikmatinya pertama kali di sini, " katanya.

Ia menyarankan, bagi pengunjung yang belum pernah ke lokasi itu, untuk membawa pakaian hangat atau jaket. Karena saat ini suhu di kaki Gunung Ciremai itu lumayan dingin.(Nars)

No comments

Powered by Blogger.