Seputar Munculnya Kembali Wacana Geothermal di Gunung Ciremai, Ini Tanggapan Bupati Kuningan



KUNINGAN - Anggaran sebesar Rp 420 Miliar dipersiapkan Pemerintah RI pada Tahun 2021 untuk pengeboran sumur eksplorasi panas bumi di beberapa wilayah di Indonesia. 

Seperti dilansir duniaenergi.com, dalam beritanya pada Senin (16/11), disebutkan bahwa pemerintah serius meningkatkan subsektor panas bumi pada tahun depan dengan menyiapkan dana untuk pengeboran sumur eksplorasi.


Hal itu diungkapkan Djoko Siswanto, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), bahwa pengeboran yang dibiayai pemerintah bertujuan mengurangi risiko pengembangan panas bumi yang harus ditanggung oleh pengembang. 

"Bahkan, sebenarnya pemerintah telah mengajukan anggaran Rp600 miliar untuk pengeboran sumur eksplorasi panas bumi pada 2021, " imbuhnya.

Dari sejumlah anggaran yang diusulkan itu, yang disetujui adalah sebesar Rp420 miliar. "Ini upaya pemerintah untuk membantu eksplorasi panas bumi,” ungkap Djoko.

Sementara, masih duniaenergi.com, Ida Finahari Nurhayatin, Direktur Panas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, mengakui adanya alokasi anggaran pengeboran eksplorasi panas bumi tersebut yang akan digunakan untuk mengebor tiga sumur eksplorasi di wilayah panas bumi Cisolok Cisukarame di Jawa Barat, Bituang di Sulawesi Selatan, dan Nage di Nusa Tenggara Timur.


“Ini sudah dimulai dari tahun ini, seperti kegiatan sosialisasi ke pemerintah daerah, berbagai survei, serta penyusunan UKL-UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan-Upaya Pemantauan Lingkungan),” ujar Ida.

Pemerintah akan melakukan eksplorasi total di 20 wilayah panas bumi dengan potensi sumber daya mencapai 1.844 megawatt (MW) dan rencana pengembangan hingga 683 MW. Rincinya, wilayah panas bumi Lokop di Aceh, Sipoholon Ria-Ria di Sumatera Utara, Gunung Endut di Banten, Guci di Jawa Tengah, Gunung Batur-Kintamani di Bali, Sembalun di Nusa Tenggara Barat, Sajau di Kalimantan Utara, Jailolo di Maluku Utara, dan Banda Baru di Maluku.

Kemudian, pengeboran eksplorasi juga dilakukan di Nage dan Maritaing di Nusa Tenggara Timur, Bora Pulu dan Marana di Sulawesi Tengah, serta Bituang dan Limbong di Sulawesi Selatan. Di Jawa Barat, pengeboran ini dilakukan di Cisolok Cisukarame, Gunung Galunggung, Gunung Tampomas, Gunung Ciremai, serta Gunung Papandayan.

Saat dikonfirmasi KR, pada Sabtu (21/11) lalu, Bupati Kuningan, H Acep Purnama menanggapi rencana pemerintah pusat dalam hal eksplorasi panas bumi di wilayah Gunung Ciremai ini.

Secara pribadi, Acep merasa bahwa untuk memanfaatkan sumberdaya alam yang harus diolah dan dikelola, selama itu untuk memberi manfaat dan kebaikan, Ia mengatakan kenapa tidak.

"Itu sah-sah saja kita kan bicara untuk Jawa Barat. Kami bukan belum menyepakati hal itu (eksplorasi panas bumi), untuk masalah geothermal kan prosesnya harus pelan-pelan. memberi pemahaman yang sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya, " ujar Acep.

Sebelumnya, pekan lalu diberitakan Bupati Kuningan bersama enam kepala daerah di wilayah yang dicanangkan sebagai Kawasan Rebana Metropolitan (Kabupaten Subang, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Sumedang, dan Kota Cirebon), pada Senin (16/11) lalu menandatangani MoU terkait pengembangan iklim investasi dengan dibentuknya Kawasan Rebana Metropolitan itu.

Penandatanganan MoU dilaksanakan dalam agenda West Java Investment Summit (WIJS) 2020 yang digelar di Bandung.

Saat dikonfirmasi, Bupati Acep membenarkan pihaknya hadir sebagai undangan dalam rapat koordinasi terkait dengan penandatanganan MoU bersama iklim investasi di Jawa Barat itu.

Namun, Bupati Acep beralasan bahwa untuk Kabupaten Kuningan berbeda dengan kabupaten/kota yang lain.

"Dengan situasi kondisi alamnya, kebijakannya, Kuningan berbeda dengan kabupaten/kota lain. Kalau di sana (kabupaten/kota lain) mengarah pada industri secara murni. namun di Kabupaten Kuningan, industrinya berbentuk pariwisata, pertanian dan yang ramah lingkungan," papar Acep.

Terkait wacana bahwa Kuningan diproyeksikan sebagai pemasok energi untuk Kawasan Rebana Metropolitan dari panas bumi (geothermal) Gunung Ciremai, Acep membantah bahwa dalam pertemuan tersebut belum disampaikan ke arah sana.


"Apapun potensi yang dimiliki Kabupaten Kuningan, salah satunya harus terintegrasi, dibangun dan diolah untuk suksesnya iklim investasi di Jawa Barat, " tandasnya.

Ia meyakinkan bahwa pertemuan itu belum mengarah ke rencana pembangunan geothermal di Gunung Ciremai, tapi (investasinya) lebih kepada konservasi alamnya.

"Terkait jenis invetasi apa yang akan dibuka di Kabupaten Kuningan, belum ada kepastian jenisnya apa. Tapi Kuningan harus mengambil peluang-peluang dengan mempromosikan, menetapkan titik-titik mana untuk zona apa, untuk masuk dalam promosi wilayah, " kata Acep lagi. (Nars)

No comments

Powered by Blogger.