Esai: Kopi dan Foto

“Secangkir Semangat”. Begitu tulisan di salah satu dari bejibunnya kata-kata dalam kemasan kopi. 

Akhir-akhir ini, minuman kopi semakin memikat (terutama) anak muda. Tak kenal waktu: pagi, siang, sore, dan malam—minum kopi seolah menjadi kewajiban setiap harinya. 

Di media sosial, minum kopi membentuk kelas-kelas sosial. Penulis teringat obrolan dengan teman beberapa hari lalu, “Hebat euy. Si Eta mah ka café wae. Loba duit,” Penulis bertanya, “Apal ti saha Si Eta ka café wae?” 



“Tuh deuleu postingan na di medsos. Sigana unggal ka café di foto.” Teman penulis mematikan HP. Menyulut satu batang rokok. Satu isapan dikeluarkan, ia menyeruput kopi. 

Penulis tak menggubris omongan teman itu. Penulis beranggapan, setiap pecandu kopi memiliki cara tersendiri untuk menikmati secangkir kopinya, apapun.

Seminggu setelah itu, Penulis dolan ke café untuk mendapatkan apa yang didapat anak-anak muda pada saat meminum kopi di café. Di café, Penulis, biasanya memesan filipino atau kopi tubruk. Penulis terlalu awam tentang jenis minuman kopi, yang Penulis pesan pada saat di café—hanyalah kopi yang berwarna hitam. Apapun jenisnya yang penting warna hitam. 

Sepulang dari café, Penulis tidak mendapatkan apa-apa selain uang kembalian yang kurang dari semula. Namun, Penulis merasa seperti ada yang mengganjal. Apa? Kalau diingat-ingat, ada sebuah senyuman yang terlihat seperti ikhlas diberikan kepada Penulis. Berpikir lagi, “Ah, mungkin ini yang didapatkan anak-anak muda itu di café.”

Di rumah, kopi itu teman menulis. Setiap kali tangan ini mendekap laptop, Penulis tidak lupa menyeduh secangkir kopi.

Kopi, senja, dan cinta selalu menyelubungi otak para pujangga. Kadang-kadang, dipadu-padankan dengan gemericik hujan, kesunyian malam, dan desir angin. Bagi para petani kopi, biji kopi bak anak. Biji kopi itu dijaga, dirawat, dan diperhatikan setiap saat. 

Berbeda dengan pujangga, “Hujan” bagi petani kopi sedikit menjadi ancaman. Apalagi, jika musim hujan datang tidak beraturan. 

Masyarakat Kuningan yang hidup pada zaman penjajahan, mungkin, tidak bisa menikmati secangkir kopi setenang seperti sekarang ini. Mengingat kejamnya tanam paksa dulu pada saat pemerintahan Herman Willem Daendels.

Di mulai dari Preanger Stelsel atau Sistem Priangan, perkembangan kopi di Kuningan mulai menyerbak. Kata Junghuhn, di Kuningan sendiri penanaman kopi telah ada di gunung Ciremai. Dalam beberapa literasi, di Kuningan Timur pun tepatnya di Cibingbin penanaman kopi telah ada. 

Menurut surat kabar harian Java Bode, pada tahun 1853, kebun kopi yang ada di Kuningan menghasilkan kopi sebanyak 10.000 pikul pertahun.

Melihat perkembangan kopi di Kuningan cukup unik, khususnya tempat minum kopi. Kenapa? Penulis melihat, ada 2 kubu yang masing-masing memiliki alasan tersendiri. Kubu pertama mungkin yang telah lama, ingat warung burjo? Warung Burjo identik dengan warung kopi (warkop). Warung Burjo ini asli Kuningan, ketika café tumbuh-kembang di Kuningan pengunjung Burjo sebagian besar pasarnya adalah orang (yang sudah) tua. 

Begitu sebaliknya. Namun, anak muda yang mengunjungi café bukan benar-benar orang yang candu kopi. Mereka hanya melihat dan mengikuti dari film tentang kopi dan postingan orang yang mereka kagumi: selebgram, influencer, dan mungkin artis. Penulis ingat Bu Sami guru sosiologi sewaktu di SMAGAR, proses ini disebut imitasi atau meniru, adalah suatu proses kognisi untuk melakukan tindakan maupun aksi seperti yang dilakukan oleh model dengan melibatkan indra sebagai penerima rangsang dan pemasangan kemampuan persepsi untuk mengolah informasi dari rangsang dengan kemampuan aksi untuk melakukan gerakan motorik, Wikipedia. 

Pengusaha café melihat ini. Telak. Maka supaya bisa menarik pelanggan dibuatlah gaya ruangan yang instagramable. Bukan tanpa alasan, para pengusaha café berusaha menyesuaikan apa yang diinginkan anak-anak muda zaman sekarang. Ilmu psikologi penting dalam bisnis.

Anak muda memang unik sekaligus pandai melihat peluang. Dulu, sewaktu KKN UNIKU digelar serentak, salah satu kelompoknya membuat kopi rasa gula aren di desa Legokherang. 



Desa itu memang terkenal penghasil gula aren. Dan tidak sedikit, ada pula petani kopi. Sebelum anak muda KKN UNIKU datang, kopi dan gula aren di Legokherang terpisah. Kemudian, mereka datang, dan terciptalah sebuah terobosan baru khususnya di desa Legokherang. 

Setiap hal yang kita ‘akui’ harus memiliki bukti. Begitu pula ketika kita mengatakan sebagai ‘pecandu kopi’. Mungkin, kata teman Penulis di atas ada benarnya, “Sigana unggal ka café di foto”, adalah sebuah usaha pembuktian kepada orang lain yang secara tidak langsung mengatakan, “Saya pecandu, penikmat, dan pecinta kopi.” Beberapa detik setelah memikirkan caption-nya, foto lekas diunggah. Begitu.


Kuningan, 24 Desember 2020

Penulis: Rifki Arof

Nama pena: Yazi Tarina

IG: rifkiarof99

No comments

Powered by Blogger.