Header Ads

Dituntut Minta Maaf, Guru Rohayatun: "Apa Saya Salah Pak?"



KUNINGAN - Dituntut minta maaf oleh pihak Pemerintahan Desa Margabakti, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan, atas postingan dan pernyatannya di media sosial serta media pemberitaan, Rohayatun (24 tahun), menyampaikan curhatan dalam salah satu acara stasiun radio milik Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan.

Diwawancara secara live Selasa (13/08/2019), Atun, panggilan akrabnya, mengutarakan ada rasa khawatir saat mendapat tuntutan dari Pemdes Margabakti.


Padahal, kata Atun, Ia bersama pihak sekolah, telah memberitahukan dan memohon ijin kepada pemerintah desa dan Pemkab Kuningan sebelum berangkat ke Jakarta untuk mengisi acara di TV nasional.

"Pak Kepala Desa juga saat itu ikut, saat kami tampil di acara TV nasional tersebut. Bahkan, Pak Bupati pun mengijinkan kami berangkat ke Jakarta," terang Atun.

Lebih jauh Atun menjelaskan bahwa isu tentang jarak antara sekolah dan rumah Jodi pun, bukan Ia yang menyatakan, melainkan itu persepsi media dalam pemberitaan saja.

"Soal jalan melalui bukit yang ada rungkun-rungkunnya (terjal-red) pun saya tahunya jalan itu, karena saya bukan asli warga Margabakti. Sebelumnya, Saya enggak tahu ternyata ada jalan lain ke rumah Jodi," ucapnya.

Menceritakan kronologi "Kisah Jodi" ini, Atun mengungkapkan awal pertama Jodi masuk sekolah Hari Selasa tanggal 23 Juli 2019. 
Pada Hari Senin tanggal 22 Juli 2019 Jodi sedang memunguti cengkeh di dekat sekolah, lalu Jodi di hampiri Kepala Sekolah dan ditanya Jodi sekolah ya, tanpa menjawab Jodi langsung menganguk.

"Lalu Pa Kepsek menyuruh Saya dan bu Dini untuk membelikan seragam sekolah Jodi 

Tanggal 23 Juli 2019. Saya menunggu Jodi di sekolah, tapi dia tidak datang, datang setelah agak siang jam 8 lebih," tuturnya.

Saat itu Jodi datang untuk jajan ke sekolah dengan memakai baju yang kotor dan tanpa alas kaki. Dan Atun pun menghampiri Jodi dan mengajak Jodi ke atas untuk memandikan dan memakaikan seragam.

Malam hari setelah mengantar Jodi pulang ke rumahnya, Atun membagikan pengalamannya ketika menemukan sosok Jodi. Ia tidak ada niatan mem-viral-kan sosok kehidupan Jodi seperti apa.

"Dalam postingan saya tidak ada menjelek-jelekan siapa pun. Padahal kita sudah konfirmasi sama perangkat desa dan saya pikir sudah selesai karena sudah saling maafan," sambung Atun.

Lalu, sepulang dari Jakarta, tiba-tiba ada surat tuntutan klarifikasi vidio viral Jodi versi Pemerintahan Desa yang ditujukan kepada Plt Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan,  Maman Hermansyah.

"Apakah saya salah pa? Niat Saya hanya membantu Jodi agar supaya Jodi bisa bersekolah. Walaupun Saya di gaji 3 bulan satu kali dan hanya di gaji dari bantuan dana BOS, tapi Saya ikhlas Lillahitaala," tandasnya.

Atun mengaku, Ia tidak melihat seberapa besar gajinya sebagai guru honorer. Ia hanya ingin berbakti kepada sekolah karena menjadi guru adalah sudah menjadi cita-citanya sejak kecil.

"Iya pak kalo misal dari masalah ini saya salah tolong kasih tau saya biar saya bisa memperbaikinya Pak," tukas Rohayatun mengakhiri kisahnya.(Nars)

1 comment:

Powered by Blogger.