"Perang Komentar Di Medsos" Berakhir Damai, IPSI dan Banser Sepakat NKRI Harga Mati



KUNINGAN - Dua organisasi yang sempat "perang kometar" di media sosial, yakni IPSI dan Banser Kuningan akhirnya bertemu untuk saling memaafkan. Menurut informasi yang diperoleh kuninganreligi.com, pada Rabu (28/08/2019) sore, Bupati Kuningan  memediasi kedua belah pihak untuk duduk bersama dan saling memaafkan.

Pertemuan yang diinisiasi Bupati tersebut ternyata berjalan sesuai harapan. Kedua belah pihak yaitu IPSI dengan Banser maupun GP Ansor bisa saling bemaafan di Pendopo, 

Sekadar informasi, memanasnya kedua kubu bermula saat status Apa Ukas mendapat komentar pedas dari beberapa akun yang tidak terima dengan postingan tersebut. Salah satunya adalah akun atas nama Sedal Jepit.

Komentar demi komentar tersebut semakin meruncing, bahkan hingga ada ancaman dan saling menantang dari kedua kubu. Hingga, beredar kabar kedua belah pihak bersiaga.



Beruntung setelah dipertemukan Bupati, kedua belah pihak yang saling berkomentar tersebut akhirnya mau berlapang dada dan saling memafkan.

Berlanjut, pada Kamis (29/08/2019), pemilik akun atas nama Sendal Jepit, salah satu yang juga berkomentar pedas akhirnya bertemu dengan Ukas Suharfaputra sebagai pemilik akun Apa Ukas di kantornya. 

Yayat Hidayat, pemilik akun Sendal Jepit, yang juga pemilik pesantren Da’arul Muhlisin Cisanata itu, diterima hangat oleh Ukas. Komunikasi dua arah pun terjadi antara Ukas, yang juga petinggi IPSI Kuningan dengan Yayat Hidayat yang notabene adalah Dan Skolat Banser Korcab Kuningan ini.

Pertemuan keduanya mencairkan ketegangan yang telah terjadi beberapa hari ini. Dan akhirnya mereka menyepakati pedamaian dan tetap menjaga marwah NKRI harga mati. 

Saat diwawancara media, Ukas, yang juga Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kuningan ini menceritakan bahwa pihaknya ingin membangun kondusifitas, dengan koridor saling menghargai. Ketika ada pihak atau lembaga yang menganggu, pihaknya tentu tidak diam.

Berdasarkan permasalahan yang terjadi di dunia maya, lanjut Ukas, pihaknya menyimpulkan dengan berbagai pertimbangan telah menjadi korban public bullying dari pihak tertentu yang dilakukan secara masif maupun mainstream. 

“Awalnya kami kemarin memang sedang menunggu (wait and see). Ada beberapa opsi yang kami persiapkan bersifat institusional yaitu langkah hukum, tidak hanya memperkarakan mereka yang memberikan public bullying saja, tapi juga memperkarakan media yang tidak bertanggung jawab,” jelas Ukas. Kamis siang di kantornya

Disebutkan Ukas, ada dua atau tiga media yang sangat provokatif dan tidak mencerminkan kualitas etika jurnalistik, dan di bawah standar. Tentunya dia berharap para wartawan lokal itu tidak harus jongkok, tapi harus pintar. Maka dia meminta mereka bisa mengupgrade diri.

Kemudian, lanjut Ukas, terkait langkah personal, yaitu pihaknya melihat siapa saja yang berkomentar di media sosial melampaui batas, dengan ucapan – ucapan. Tentu yang dilakukan yaitu klarifikasi, apakah yang mereka katakan seperti yang dipikirkannya, atau memiliki persepsi tersendiri.

“Tentunya kami juga membuka ruang secara personal, jika ada yang ingin diselesaikan dengan kami. Jika perlu disesuaikan dengan “tempat dan waktunya”, seperti diatas ring tinju, atau diatas matras, yang tidak akan bersentuhan dengan hukum,” ujar Ukas.

Berjalannya waktu, lanjut Ukas, karena pihaknya masih mengedepankan pendekatan yang sifatnya personal, maka pihaknya masih menunggu itikad baik. Ternyata respon cepat dari Bupati melakukan mediasi antara pihaknya dengan Banser.

“Dan Alahamdulilah, kemarin secara resmi Banser dan Ansor menyampaikan permohonan maaf atas semua tindakan orang–orang di organisasi mereka yang tidak terkendali di Medsos,” kata Ukas.

Kemudian kedatangan pemilik akun “Sendal Jepit” di kantornya pun, diakuinya senang dengan proses tabayun yang dilakukan. Bahkan, imbuhnya, akhirnya mereka bisa saling kenal satu sama lain, mengingat belum pernah berkenalan sebelumnya. 

“Kami menganggap masalah ini selesai. Mari ke depan kita saling menghormati, tidak usah melakukan tindakan–tindakan yang di luar koridor. Dan kesepakatan ini juga harus meresap sampai kebawah. Termasuk di organisasi kita juga pastinya. Tapi apabila ada pihak yang tidak mengikuti berarti risikonya person to person, bukan atas nama organisasi,” jelas Ukas. 



Hikmah dari permasalahan ini, menurut Ukas, agar semua pihak jangan sampai merasa paling tinggi, merasa paling jago. Karena semua sama didepan bangsa ini, semua adalah anak–anak bangsa yang dituntut bertindak semangat dalam marwah nasionalisme.  

“Jadi yang memiliki NKRI itu bukan hanya Saya, Si Fulan, tapi semua memiliki NKRI, mari kita jaga bersama,” ujar Ukas. 

Di lain pihak, Yayat Hidayat menyampaikan bahwa ada beberapa hikmah dari permasalahan tersebut, pertama yaitu ternyata negara ini masih dicintai seluruh rakyatnya, NKRI harga mati itu bukan hanya milik Banser, ataupun milik aparat, ternyata semua orang bahkan termasuk IPSI dalam hatinya tertanam kuat NKRI harga mati. 

“Silahturahmi ini benar – benar membawa berkah, Saya bisa kenal semuanya lebih dari itu, Saya merasa berada di tengah keluarga, semua saudara, dan semua berniat menjaga kondusifitas kuningan ini,” jelas Yayat. (Nars)

No comments

Powered by Blogger.