Tirukan Ucapan Almarhum Suami, Siti: "Mah, Hampura Bapa Bisi Teu Pendak Deui, "


KUNINGAN - Ditinggal pergi selama-lamanya oleh sosok Suami,  Siti Rohana (52), warga Rt 07 Rw 04 Dusun 2 Desa Sidamulya, Kecamatan Jalaksana, mengaku ikhlas.  Menurutnya, dunia ini hanya milik Sang Pencipta,  Allah SWT,  begitu pula anak,  dan suami,  itu hanyalah titipan. 

"Saya ikhlas,  Suami Saya sudah menghadap lebih dulu kepadaNya.  Minta doanya saja,  semoga meninggalnya Beliau husnul khatimah,  " kata Siti Rohana,  didampingi anak semata wayangnya,  Siti Maimunah (24), ketika kuninganreligi.com mengunjungi kediamannya, Senin (02/03/2020) malam. 



Sang Suami,  Saleh Sarifudin bin Wikanta, 62 tahun,  ditemukan warga desa sudah tidak bernyawa di embung desa yang berlokasi di Blok Pereng, pada Senin pagi itu.  

Menurut Siti Rohanah,  keseharian suaminya memang selalu mandi di embung tersebut setiap pagi.  Meski selama dua tahun ini,  suaminya memiliki penyakit stroke,  dan kaki sebelah kanannya kaku,  tapi Ia selalu pergi ke embung tersebut berjalan dengan menggunakan tongkat. 

"Kemungkinan Beliau terpeleset saat mandi, karena kakinya kaku,  Suami saya tidak bisa berenang, " ujar Siti ketika ditanya kronologi meninggalnya Sang Suami. 

Ditanya apakah Ia memiliki firasat sebelum Suaminya meninggal, Siti memang sering mendengar Suaminya minta maaf,  barangkali tidak bisa bertemu kembali. 

"Kemarin sore pun bilang begitu,  Mah, hampura bisi teu pendak deui, kata Dia. Saya hanya berkata,  Si Bapaknya emang mau ke mana? ," kenang Siti. 

Selain perkataan itu,  Korban Soleh pun sering mengatakan pada Siti,  seolah-olah selalu ada yang mengajaknya pergi ke embung itu. 
"Ayo pulang,  ayo pulang,  mandi, " kata Siti menirukan ajakan yang sering diobrolkan suaminya. 

Sebelum ditemukan meninggal di dasar embung,  korban Soleh,  imbuh Siti, sempat mengantarkan dagangan es dan jajanan anak sekolah ke tempat Siti berjualan,  yakni di SDN 1 Sidamulya. 

"Sekira jam 06:30 WIB,  suami Saya seperti biasa mengantarkan dagangan ke sekolah.  Pulangnya sempat menitipkan kunci rumah ke tetangga, " ceritanya. 

Jam 10:30 WIB,  saat Siti pulang dari berjualan di sekolah,  Ia tidak menjumpai suaminya di rumah. Saat itu,  Siti tidak menaruh curiga apa-apa,  karena Suaminya sering mampir ke Cibentang,  ke rumah keluargannya, jika Siti tidak ada di rumah, untuk menghilangkan kebosanan. 

Namun, ditunggu-tunggu,  ternyata sebelum Dzuhur, suaminya tidak pulang,  akhirnya Siti bermaksud mencari suaminya ke embung,  karena pas berangkat Ia membawa handuk yang biasa dipakainya mandi di embung. 

Sesampai di pinggir embung,  Siti hanya menemukan tongkat,  handuk dan sandal suaminya.  Ia akhirnya bertanya ke warga yang sedang bekerja di sawah yang tak jauh dari lokasi embung. 

"Warga sempat melihat suami Saya mondar-mandir di pinggir embung dan ada yang mendengar suara sesuatu benda jatuh ke air,  tapi mereka tidak menyangka bahwa yang jatuh itu suami Saya,  " terang Siti. 

Lalu Ia pergi bertanya ke warga yang sedang berada di alun-alun desa barangkali ada yang melihat suaminya.  Para tukang ojek pangkalan di sana,  tak satu pun yang melihatnya, padahal kalau suaminya pulang,  pasti lewat ke alun-alun tersebut. 

Menaruh curiga,  karena ada sandal dan handuk suaminya di pinggir embung,  akhirnya Siti meminta pertolongan warga untuk mencari Suaminya di embung tersebut.  Dan ternyata benar,  suaminya ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam air yang ada di pinggir embung itu. 

"Saat diangkat,  saya melihat tidak ada air ke luar dari dalam tubuhnya, seolah kering saja,  " ujar Siti. 

Suti mengenal suaminya sebagai orang yang taat agama. Meski dalam keadaan sakit stroke,  suaminya rajin pergi Sholat Jumat ke masjid. Kadang Ia sendiri mengantar suaminya pergi ke masjid desa. 



Selama punya penyakit stroke,  Siti rajin membawa suaminya ke dokter dan pengobatan alternatif.  

"Bahkan sampai empat kali seminggu,  Kami pergi berobat. Namun Allah SWT lebih dahulu memanggilnya kembali,  " tukas wanita kelahiran Lampung ini, yang mengaku sudah tinggal di Kuningan sejak tahun 1997 silam. (Nars) 

No comments

Powered by Blogger.