Pendiri Ungkap Awal Mula AKAR, Hingga Telah Berkiprah Selama Tiga Dasawarsa


KUNINGAN - Lembaga Swadaya Masyarakat  Pecinta Lingkungan, Olahraga dan  Seni Beladiri, dengan fokus kegiatan pada Community Development, Environment Education,Environment Advocation, berjuluk Aktivitas Anak Rimba (AKAR), bisa disebut sebagai organisasi pecinta lingkungan tertua di Kabupaten Kuningan.

Didirikan pada 18 Nopember 1990, AKAR yang semula bersekretariat di salah satu gubuk, kini setelah tiga dasawarsa usianya, telah banyak berkontribusi aktif dalam berbagai kegiatan penyelamatan lingkungan dan sudah memiliki markas sendiri di Hutan Kota Bungkirit, Kecamatan Cigugur.


Peringatan Hari Lahir AKAR, bertajuk Tiga Dasawarsa AKAR, tahun 2020, digelar selama dua hari, pada Sabtu-Ahad (21-22/11/2020).

Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam memperingati 30 tahun AKAR, diantaranya adalah Khitanan Massal untuk 31 anak, 

Donor Darah (50 orang), dan Santunan Anak Yatim (53 anak).

Salah seorang pendiri AKAR, Maman Supriatman, atau yang dikenal sebagai Kang Mezique, menceritakan, awal mula pendirian AKAR, tiga puluh tahun yang lalu.

"Saat itu kami beberapa pecinta alam di Kuningan berkeinginan untuk memberikan kontribusi pada lingkungan di sekitar, terutama di lereng Gunung Ciremai, " kenangnya.

Gerakan awalnya, AKAR melihat banyaknya sampah sintetis di sekitar Gunung Ciremai yang ditinggalkan oleh para pendaki yang kurang bertanggungjawab.

"Bermula dari soal sampah di Gunung Ciremai,

Kami berinisiatif membersihkan sampah sintetik yang ditinggalkan pendaki, " ucapnya.

Pihaknya saat itu memiliki prinsip, bahwa secara umur alam akan rusak karena pengaruh banyak hal, termasuk karena meningkatnya populasi manusia, maupun perkembangan teknologi dan lain-lain.

"Kita manusia tidak bisa menghentikan hal itu, namun kita bisa memperlambatnya dengan upaya yang dilakukan, "tandas pria berambut panjang ini.

Manusia, imbuhnya, bisa memilih, di posisi mana akan berperan. Apakah sebagai penghambat kerusakan lingkungan, ataukah mempercepat kerusakan itu.

"Kita tidak ingin keindahan alam, mata air ini nanti hanya tinggal dongeng dan cerita bagi anak cucu kita

Pihaknya berharap apa yang dilakukan AKAR menjadi hal yang membuat generasi yang akan datang masih bisa menikmati hutan di sekitarnya. Sejak saat didirikan, AKAR berkomitmen untuk tidak memiliki muatan lain, selain ada di posisi orang yang peduli pada lingkungan.

"Itulah yang membuat kami bertahan hingga saat ini. Mudah-mudahan apa yang kami lakukan tertular ke semua adik-adik kita yang lain, ke komunitas lain. Mudah-mudahan alam lestari tetap ada untuk anak cucu kita ke depan, " harap Mezique.

Sementara, mewakili Bupati Kuningan, Kadis LH Kuningan, Wawan Setiawan, mengapresiasi komitmen yang dimiliki AKAR hingga tiga dasawarsa berkiprah dan memiliki 120 anggota saat ini.

"Saya mengibaratkan satu pohon Kelapa, mudah-mudahan AKAR bisa seperti pohon Kelapa yang terus tumbuh menjulang tinggi dan memiliki manfaat dari semuanya, mulai dari daun hingga akarnya, bagi masyarakat dan lingkungan, " ungkap Wawan.

Dari filosofi Pohon Kelapa ini, katanya,  menggambarkan kiprah AKAR ke depan, diharapkan tetap konsisten betcita-cita tinggi, inovatif, kreatif, peduli dan bersatu dengan masyarakat dalam perjuangannya.

"Karena hutan adalah salah satu sumber kehidupan manusia yang harus dilestarikan, AKAR harus tetap ada untuknya, " tandasnya.


Hadir dalam agenda yang bertema "Tersembunyi bukan tak berarti, Terbenam bukan karena karam, Merambat bukan untuk terlambat", Kadis LH Kuningan, Wawan Setiawan, Kepala Pelaksana BPBD Kuningan, Indra Bayu, Anggota DPRD Kuningan Fraksi Gerindra Bintang, Sri Laelasari, perwakilan Polres Kuningan, perwakilan Dandim 0615/Kuningan, BTNGC, dan Camat Cigugur.

Acara ditandai dengan penyerahan bingkai bergambar sekretariat lama dan daftar nama para pendiri AKAR, pemotongam kue dan penyerahan bibit secara simbolis.

Sejumlah bibit tersebut akan ditanam di kawasan Kebun Raya Kuningan (KRK) saat peringatan 5 tahun KRK, 25 November lusa.(Nars)

No comments

Powered by Blogger.