BPBD Duga Ada Dua Jenis Predator pada Fenomena Kematian Puluhan Kambing di Kuningan


KUNINGAN - Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kuningan, Indra Bayu Permana, menduga ada dua jenis predator dalam kejadian kematian massal hewan ternak milik warga tiga desa di Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan. Hal itu dikatakannya berdasarkan jejak yang ditemukan di sekitar lokasi kandang kambing warga Kuningan Timur dari hasil pengamatan petugas BPBD.

"Petugas kita ikut juga hadir di lokasi saat pengamatan fenomena kematian massal hewan ternak milik warga, kemarin, " ungkap Indra pada KR, Ahad (13/12/2020) malam.



Dari pengamatan sebelumnya, pihaknya belum bisa memastikan jenis hewan atau predator seperti apa yang mengakibatkan kematian puluhan kambing tersebut. Karena, dari foto-foto bangkai kambing yang ditelitinya, hanya terlihat bekas luka di beberapa titik, seperti di leher, perut dan punggung.

Untuk penyelidikan lebih lanjut, pihaknya sempat menyarankan agar bangkai hewan yang mati misterius itu diambil satu sebagai sampel agar bisa diteliti oleh ahli di bidangnya di Dinas Peternakan.

"Kita sudah koordinasi dengan pihak kecamatan setempat, agar jika ada muncul kasus lagi bisa diambil sampel untuk diteliti kematian hewan tersebut karena apa, " ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi terjadinya kasus susulan, Ia menghimbau kepada para peternak yang memiliki kandang jauh dari pemukiman bisa dijaga dengan siskamling secara bergiliran. Karena kalau tidak ada penjagaan, pihaknya menyebutkan tidak bisa menjamin jika hewan pemangsa tersebut tidak akan menjarah lagi ke kandang milik warga.


Sebagai mantan Camat, Indra juga sempat menemukan kasus serupa saat dirinya bertugas di Kecamatan Subang. Saat itu diketahui yang jadi pemangsa hewan-hewan ternak milik warga adalah jenis anjing hutan.

"Kejadiannya sama seperti di dearah Kecamatan Subang sekira dua tahun lalu, saat itu terdeteksi pemangsanya adalah anjing hutan, " terangnya.

Dalam kasus kematian massal puluhan kambing di Kecamatan Cibingbin, Indra menduga ada dua jenis predator. Dari jejak luka pertama yang ditemukan pada tubuh kambing, seperti lubang sebesar jempol. Sedangkan dari jejak luka pada kasus terakhir di Desa Sukaharja, terlihat luka yang agak besar.

"Jadi diduga ada dua jenis pemangsa. Saya pribadi memperkirakan ini adalah yang pertama sejenis kelelawar besar dan yang kedua adalah anjing hutan. Tapi ini baru dugaan ya, kita belum bisa memastikan secara komprehensif, karena harus diteliti dulu oleh ahli terkait, " paparnya.


Selain itu, trik yang disarankannya untuk mengusir hewan pemangsa adalah dengan membuat suara-suara seolah di sekitar kandang ada manusia, semisal menyalakan rekaman musik atau suara-suara gaduh lainnya.

"Biasanya kalau ada suara gaduh seperti suara motor, musik dan yang lainnya, hewan-hewan pemangsa itu menyangka ada aktifitas manusia, dan mereka akan lari tidak berani mendekat, " tandasnya.

Upaya lain yang disarankan pihaknya untuk mengantisipasi munculnya hewan pemangsa  adalah dengan menambah lampu penerangan di sekitar kandang.

"Setidaknya ini antisipasi yang bisa dilakukan sementara waktu hingga nanti diketahui predator jenis apa yang memangsa hewan ternak itu," pungkasnya. 

Sebelumnya fenomena kematian puluhan hewan ternak secara misterius terjadi di tiga desa di Kecamatan Cibingbin. Kematian puluhan hewan jenis kambing itu membuat penasaran warga, karena pemangsa tidak memakan dagingnya, melainkan hanya menghisap darah saja.



Salah seorang peternak di Desa Sukaharja, menemukan jejak seperti jejak kaki anjing di sekitar kandang. Di lokasi kandang lainnya ada ditemukan juga bekas cakaran kuku hewan.

Pihak Dinas Peternakan dan Perikanan Kuningan beserta Muspika Cibingbin sedang melakukan penyelidikan dan olah TKP di lokasi untuk memastikan penyebab kematian puluhan ternak milik warga Cibingbin ini. (Nars)

No comments

Powered by Blogger.