Ini Catatan Historis Gempa Bumi Sesar Brebes, BMKG Sebut, Dampaknya Pernah Menimbulkan Korban Jiwa

KUNINGAN - Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono, dalam keterangannya pada Sabtu (12/12/2020) kemarin menjelaskan, dilihat dari catatan historis, di Kabupaten Brebes dan Kuningan pernah terjadi gempa akibat aktivitas sesar aktif sebanyak beberapa kali.

Catatan historis gempa tersebut terjadi pada 21 Oktober 1931, 16 Juni 1971, dan 4 Februari 1992. Saat itu guncangan gempa berdampak pada kerusakan bangunan milik warga, bahkan menimbulkan korban jiwa.



“Jika mencermati aktivitas kegempaan di zona Sesar Brebes tampak bahwa sesar ini masih sangat aktif, yang tampak dari seismiaitas dan catatan sejarah kegempaannya," terang Daryono.

Dijelaskan, jika melihat aktivitasnya, maka Sesar Brebes merupakan sumber gempa yang patut diwaspadai, karena aktivitas gempa dengan kekuatan di bawah 5,0 jika kedalamannya sangat dangkal dapat menimbulkan kerusakan.

Kemudian Ia menerangkan, bahwa gempa bumi berkekuatan Magnitudo 4,2 pada Jumat (11/12) pagi merupakan jenis gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) yang dipicu aktivitas Sesar Brebes. Hal tersebut dilihat dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya.

“Jalur Sesar Brebes ini di peta terletak di sebelah barat daya Kota Brebes yang struktur sesarnya memanjang sekitar 22 kilometer berarah barat-timur, memiliki magnitudo tertarget 6,5. Sesar ini merupakan bagian dari Baribis-Kendeng Fold Thrust Zone,” ujar Daryono.

Lebih lanjut, Daryono menjelaskan bahwa tidak sekali ini saja wilayah Brebes dan Kuningan diguncang gempa. Ia mengatakan, pada 13 Juli 2013 wilayah Brebes dan Kuningan pernah diguncang gempa berkekuatan 4,7 yang dipicu oleh Sesar Brebes. 

Guncangan dirasakan di Brebes dalam skala intensitas III MMI, Sedangkan di Kecamatan Cibingbing dan Kecamatan Bantarkawung intensitasnya mencapai mencapai IV MMI.

“Dampak gempa saat itu tercatat ada 36 jiwa atau 9 kepala keluarga yang terdampak gempa, 2 rumah rusak berat di Dukuh Sindangsari dan Kastori, sedangkan 7 rumah rusak ringan di Dukuh Pasir Salem,"paparnya.

Pusat gempa, katanya, saat itu berada di perbatasan antara Kecamatan Cibingbing Kabupaten Kuningan, Jawa Barat dan Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Sementara, berdasarkan data terakhir Pusdalops BNPB per 11 Desember 2020, pukul 13.00 WIB, di Kabupaten Kuningan, sebanyak 23 rumah rusak akibat guncangan gempa pada Jumat (11/12) lalu.

Dari 23 rumah tersebut, ada pada kategori rusak sedang 4 unit dan rusak ringan 19. Rumah mengalami kerusakan meskipun kekuatan guncangan pada skala II MMI. Sedangkan Kalak BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu, juga mencatat 2 unit fasilitas umum, yakni Puskesmas dan Poskesdes juga terdampak guncangan dengan rusak ringan. 

Berdasarkan peta guncangan dari BMKG, gempa M4,2 ini memicu guncangan yang diukur dengan skala MMI atau Modified Mercalli Intensity wilayah Kuningan pada II MMI dan Cirebon pada II – III MMI.

Indra mengatakan, pihaknya telah menurunkan tim kaji cepat untuk mengidentifikasi dampak di lapangan. BPBD setempat juga telah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait pascagempa. Gempa tadi pagi dirasakan di beberapa wilayah selama 20 detik, khususnya di Kabupaten Kuningan. Di samping itu, pihaknya telah mengimbau masyarakat setempat untuk tidak panik dan tidak terpancing oleh isu yang tidak jelas sumber informasinya.



Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan parameter gempa dengan magnitudo M4,2 yang terjadi pada Jumat (11/12), pukul 05.51 WIB. Gempa yang berada di darat pada 28 km barat daya Kabupaten Brebes berkedalaman 5 km. (Nars)

No comments

Powered by Blogger.