Ads Top

Trend Minuman Herbal Meningkat, Petani Muda Kuningan Kembangkan Jahe Merah

KUNINGAN - Kondisi Pandemi Covid-19 sudah berjalan hampir satu tahun, selama itu pula hari demi hari konsumsi suplemen baik makanan maupun minuman untuk penambah imunitas tubuh terus dibutuhkan masyarakat. Salah satu minuman khas Indonesia yang makin meningkat permintaannya adalah minuman jenis jamu-jamuan yang diramu dari rempah-rempah. Dan Jahe Merah adalah salah satu bahan jamu yang banyak dicari.

Seiring meningkatnya permintaan akan rimpang Jahe Merah sebagai bahan pembuat minuman kesehatan, membuat harga rempah bernama latin Zingiber officinale ini semakin meningkat pula. Meski telah banyak petani mulai melirik usaha menanam jahe merah, namun menurut perhitungan pasar, jumlahnya belum bisa mencukupi permintaan.



Ini semakin memunculkan petani-petani baru yang tertarik untuk mengembangkan tanaman asal Asia Pasifik tersebut. Salah satunya, Nadiawan Zovizal, pemuda asal Desa Bandorasa Kulon, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Ia mulai menanam Jahe merah dengan caranya sendiri.

Berlokasi di sebuah halaman sekira 20 bata, di Jalan Raya Bandorasa Kulon, Zovie (panggilannya) mengembangkan tanaman jahe merah dalam dua metode. Pertama, Ia menanam jahe tersebut di tempat polybag, dan yang kedua Ia menanamnya langsung di tanah yang telah diolah terlebih dahulu.

"Ya, bermula dari trend jahe merah yang meningkat di dunia akibat dibutuhkan karena adanya pandemi. Saat masyarakat sudah mulai sadar akan manfaat dari rempah-rempah khas Indonesia ini, Saya mencoba mengembangkan tanaman jahe, " ungkapnya saat ditemui kuninganreligi.com di kebun miliknya, Sabtu (16/01/2021).

Selain sebagai pengembangan usaha (bisnis), Zovie menekuni bidang pertanian dengan harapan bisa menjadi contoh bagi generasi muda lainnya di Kuningan yang mencintai bidang pertanian.

"Ya kita mengajak kaum muda untuk turun tangan ke bidang pertanian, karena bidang ini sangat memberi manfaat bagi masyarakat, Semakin hari, kita lihat jarang dan sedikit jumlahnya, generasi muda yang serius menekuni bidang pertanian. Mereka kebanyakan lebih tertarik kerja di kantoran. Lantas siapa yang akan meneruskan bapak-bapak petani ke depannya?," ungkapnya.

Untuk sistem pengolahan tanah, media tanam dan pemupukan (perawatan tanaman), Ia mengklaim semuanya memakai bahan organik. Jahe  merah yang dihasilkannya pun nantinya adalah berupa jahe organik.

Dalam luasan lahan yang dimilikinya, Ia menanam sebanyak 2.500 tanaman. Dengan dua jenis media tanam itu, Ia memanfaatkan media tanam seperti sekam bakar, gedebong pisang dan campuran tanah dengan pupuk organik.

"Dari eksperimen yang kita lakukan antara media polybag dan bedengan, ternyata dari segi efisiensi dan hasilnya, terlihat yang media polibag ini lebih baik. Keunggulannya adalah efisiensi lahan yang bisa menampung jumlah tanaman yang banyak dalam lahan yang tidak begitu besar, " terangnya.

Bicara pemasaran, Zovie menyebutkan, Ia sudah menjalin kerjasama dengan sebuah perusahaan yang telah siap menampung hasil komoditi jahe yang ditanamnya.

"Kebetulan kita sudah menjalin kerjasama dengan satu perusahaan yang siap menampung jahe kita nanti. Mereka bisa mengekspor hasil jahe kita ke luar negeri. Ini kan daurnya sepuluh bulan, saat ini baru enam bulan, nanti panen kita sudah ada yang nampung, " ujarnya.



Terpisah, peneliti Pertanian Organik Kuningan yang pernah mendapat penghargaan dari Pemkab Kuningan, Sulistio Ipac, memaparkan dirinya sangat mendukung langkah yang dilakukan Zovie. Orang-orang seperti Zovie ini, menurutnya harus mendapat dukungan, karena bisa menumbuhkan petani-petani muda di Kabupaten Kuningan.

"Kita akan dorong Dia dalam bentuk masukan dan tips-tips bertani agar hasilnya bisa baik. Semoga kedepan muncul petani-petani muda di Kuningan yang bisa mengembangkan hasil-hasil pertanian Kuningan, " kata Tio, sapaannya, sambil meminta agar petani muda Kuningan tetap semangat. (Nars)

Diberdayakan oleh Blogger.