Berkah Ramadhan, Pembuat Kolang-Kaling di Desa Ciasih Bisa Untung Rp 150 Ribu per Hari

Abah Gatot Merebus Buah Aren untuk Dibuat Kolang-Kaling (foto: @nengandhine)

KUNINGAN - Selalu jadi primadona di setiap tibanya Bulan Ramadhan, kolang-kaling banyak diburu warga untuk membuat minuman berbuka puasa. 

Menurut salah seorang pembuat kolang-kaling, Gatot (63 tahun), warga Desa Ciasih Kecamatan Nusaherang, karena banyak permintaan, Ia setiap hari harus pergi ke kebun untuk memetik buah aren yang akan diambil bijinya sebagai bahan pembuat kolang-kaling.


Pria yang sudah mempunyai 2 cucu ini mengaku telah menjalankan usaha pembuatan kolang-kaling selama puluhan tahun.

"Paling sulit dalam proses pembuatan kolang-kaling adalah saat memetik buah aren. Karena pohonnya tinggi-tinggi dan berada di pinggir tebing," ungkapnya saat diwawancarai media, Kamis (15/04) di kebunnya.

Saking susahnya memanjat pohon aren, Gatot mengklaim hanya sedikit orang yang menggeluti usaha pembuatan kolang-kaling ini.

"Di Ciasih juga cuma Saya sendiri, paling juga ada satu dua orang yang membantu memetik buah aren," ujarnya.

Ia menuturkan, kesulitan saat memetik buah aren disebabkan tektur pohon yang kasar. Juga rangkaian buah aren yang banyak mengandung getah dan bikin gatal di kulit membuat jarang orang yang mau bersusah payah memetiknya.

"Tak banyak yang bisa memetik buah aren, ini butuh keahlian khusus," imbuhnya.

Dari satu pohon aren (Arenga pinnata) yang lebat, Gatot mengaku bisa memetik satu mobil bak terbuka banyaknya dengan kisaran harga Rp 100 ribu.

Jika pohon yang buahnya jarang, Ia hanya mendapatkan setengahnya bahkan seperempatnya saja sudah untung.

"Pohonnya juga jarang ditemui, kita harus nyari dulu di setiap lokasi," ucapnya.

Profesi pembuat kolang-kaling digeluti Gatot hanya pada saat Bulan Ramadhan tiba. Karena di luar itu, permintaan akan kolang-kaling sedikit.

"Di luar Bulan Ramadhan, Saya bekerja sebagai buruh bangunan, " sebutnya.

Meski begitu, jika ada pesanan kolang-kaling di luar Bulan Ramadhan, Gatot bisa menyanggupinya. Di luar Ramadhan harganya lumayan, namun sedikit permintaan. Gatot biasanya mengantarkan langsung ke konsumen.

PMB FAHUTAN UNIKU KLIK DI SINI

Kampus Fahutan Uniku

"Pas Bulan Ramadhan mah banyak yang minta, jadi pembeli sendiri yang berdatangan," katanya.

Bicara soal harga, Gatot mematok sebesar Rp 8.500 / kilogram untuk konsumen yang membeli harga grosir (banyak). Sedangkan jika diecerkan, Ia menjualnya dengan harga Rp 10 ribu/ kilogram.

"Banyak juga yang membeli partai besar untuk dijual kembali di pasar-pasar. Mereka membelinya kwintalan. 

Sambil menunggu tibanya Adzan Maghrib, Gatot mempraktekkan cara membuat kolang-kaling dari awal. Mulanya buah aren dipetik dari tangkainya, kemudian direbus di dalam drum di atas tungku selama kurang dari 2 jam.

Lalu, buah aren yang telah direbus dikupas dan dibersihkan. Biji-biji aren yang sudah direbus berbentuk lonjong ini, kemudian direndam dalam air.


"Jika mau dimasak, proses perendaman harus diulang beberapa kali hingga lendirnya hilang. Kolang-kaling ini menyerap air juga saat direndam bentuknya akan membesar," paparnya.

Menurutnya, dalam sehari, Ia mampu membuat kolang-kaling sebanyak 50 kilogram. 

"Jika ramai omzetnya bisa mencapai bersih Rp 150 ribu," pungkasnya.

Untuk informasi, di pasar-pasar tradisional di Kabupaten Kuningan, harga kolang-kaling eceran adalah Rp 18-20 ribu per kilogram.

Biji kolang-kaling ini biasanya jadi konsumsi berbuka puasa dengan diolah menjadi berbagai macam minuman seperti sirup, kolak, es buah dan manisan. (Nars)

No comments

Powered by Blogger.