Ads Top

4 Ekor Kera 'Serbu' Beringin Taman Kota Kuningan Jadi Tontonan Gratis

Kera ekor panjang (Macaca fascicularis) asyik bermain di Pohon Beringin sekitar Taman Kota Kuningan 

KUNINGAN - Pemandangan unik terjadi sekitar Taman Kota Kuningan, Jawa Barat, bertepatan dengan Hari Pahlawan, Rabu (10/11/2021). Sekira pukul 10:00 WIB, 4 ekor primata keluarga kera ekor panjang (Macaca fascicularis) tiba-tiba muncul di pusat kota ini. Mereka nampak bergelayutan di sebuah Pohon Beringin (Ficus benjamina) yang ada di sekitar Tamkot Kuningan.


Seorang petugas Satpol PP Kabupaten Kuningan, Ade Rudianto, yang melihat pertama kali penampakan primata lincah ini menyebutkan 4 ekor kera tersebut awalnya terlihat di atas genting sebuah Toserba yang ada di Jalan Jenderal Sudirman. 

"Awalnya di atap toserba itu, semula hanya satu ekor terlihat, namun saat menyeberang jalan, ternyata ada 4 ekor, " ungkapnya. 

Kemunculan kawanan kera ini akhirnya menyita perhatian para pengguna jalan yang melintas di sekitar taman kota. Mereka penasaran dan menonton gerak-gerik lucu yang dilakukan primata menggemaskan tersebut. 

Sebagian warga mengaku takut diserang kawanan kera ini dan akhirnya memutuskan  berhenti sejenak melihat kera itu menjauh dulu. 

Dikatakan Ade, pihaknya akhirnya berjaga-jaga untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan akibat perilaku kera-kera itu. 

Baca juga:

Musim Kemarau, BTNGC Waspadai Ancaman Hewan Liar Masuk Pemukiman Warga


"Ya karena banyak warga yang ketakutan, akhirnya Saya bersama rekan-rekan Satpol PP berjaga-jaga di sekitar pertokoan itu. 

Setelah puas bermain-main di atap toserba, kawanan kera ini akhirnya memburu pohon beringin besar yang ada tepat di dekat monumen nol kilometer Tamkot Kuningan dan bergelayutan di ranting pohon tersebut. 

Mungkin karena merasa ada di habitatnya, kera-kera tersebut ternyata betah berada di sana bahkan hingga tengah hari. 

Berbagai tanggapan dari warga yang melintas di Jalan Dewi Sartika, Jalan  Siliwangi dan Jalan Jenderal Sudirman terkait kemunculan kawanan kera ini berhasil dihimpun kuninganreligi.com.

Salah seorang kusir delman yang mangkal di  Depan Masjid Syiarul Islam mencoba menghitung jumlah kera yang sedang bermain di atas pohon itu. 

"Coba dihitung, eh, iya ada 4 ekor. Mungkin mereka nyasar ke kota, dan ketemu pohon yang dianggapnya rumah mereka, " celetuk kusir delman ini. 

Seorang pemotor pun berkomentar saat melihat kera itu berlarian. 

"Sepertinya mereka sedang mencari makanan di atas pohon itu, " katanya. 

Baca juga:

Kawanan Monyet di Tengah Kota Berhasil Dievakuasi Tim Damkar

Sebagian warga nampak mencoba menarik perhatian kawanan primata ini untuk turun dari atas pohon. Namun, alih-alih bisa turun, kawanan kera itu malah terlihat seperti betah berada di atas pohon rindang itu. 

"Dipancing turun malahan makin betah, mungkin mereka memang sedang cari makanan di atas pohon itu, " ujar Ade 

Fenomena 'turun gunung "nya kawanan primata ini, mendapat tanggapan dari seorang penggiat lingkungan hidup yang aktif di LSM Gerakan Masyarakat Jawa Barat Hejo (Gema Jabar Hejo) DPD Kuningan, Andini Rahmawati. 

Perempuan yang menjabat sebagai Bendahara di GJH ini melihat fenomena ini sebagai adanya yang tidak beres dengan ekosistem lingkungan sekitar. 

"Ini tanda ada yang tidak beres dengan lingkungan tempat mereka tinggal. Bisa saja rantai makanan di habitat primata ini terganggu, " sebutnya. 

Saat di habitatnya tidak ada lagi makanan, maka kera-kera tersebut akhirnya berjalan untuk mencari sumber makanan baru hingga akhirnya mereka tersesat di luar habitatnya. 


 "Terlempar dari habitat asal, tentu menjadi beban tersendiri bagi kera-kera tersebut," imbuhnya. 

Ia juga menyebutkan kera-kera yang masuk ke permukiman warga itu adalah kera yang terusir dari habitatnya. Pasalnya kera-kera itu hidup dalam koloni atau kelompok yang saling bersaing satu sama lain.

" Mereka membentuk koloni, dengan jumlah 20-25 ekor satu koloni, kemudian ada koloni kedua, ketiga dan seterusnya. Mereka itu saling serang antar koloni, yang kalah minggir keluar dari habitatnya, akhirnya masuk ke permukiman masyarakat," pungkas Andini. (Nars) 

Diberdayakan oleh Blogger.