Ads Top

Nyamuk Aedes Aegypti, vektor penyebab DBD (foto: klikdokter) 

KUNINGAN - Kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kuningan per Tahun 2021 disebutkan menurun jumlahnya. Hal ini dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Kuningan, dr Susi Lusiyanti, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), dr Denny Mustafa kepada kuninganreligi.com, Jum'at (05/11) di ruang kerjanya. 


"Untuk data kasus DBD tidak ada lonjakan yang signifikan. Hanya ada 1-2 kasus di satu tempat, dan tidak terus bertambah, " terangnya. 

Penurunan angka kasus DBD ini, pihaknya menganalisa, disebabkan karena pusat-pusat pelayanan kesehatan masyarakat masih terfokus pada penanganan Pandemi Covid-19. Dan masyarakat juga tidak banyak melaporkan adanya kasus DBD ini. 

"Pihak PKM juga belum secara rutin melaporkan Angka Bebas Jentik (ABJ), " ucapnya. 

Dari data penanganan kasus DBD di Kabupaten Kuningan tahun 2021, sejak Januari hingga Nopember ini, Dinkes Kuningan mencatat total sebanyak 196 kasus. 

Angka ini menurun drastis dari angka kasus DBD tahun 2020 yang tercatat ada 364 kasus. 

Data jumlah kematian akibat DBD pun dilaporkan terus menurun dalam tiga tahun terakhir. Kasus kematian akibat DBD tahun 2019 dilaporkan ada 4 kasus, tahun 2020 ada 3 kasus, dan tahun 2021 hanya ada 1 kasus kematian. 

Denny menambahkan bahwa kondisi cuaca memasuki musim penghujan memang bisa menimbulkan beberapa jenis penyakit muncul, termasuk DBD. 

"Penyakit DBD ini kan ditimbulkan oleh virus sama dengan influenza, juga Covid, hanya saja DBD ini ada vektornya yakni nyamuk, " ujarnya. 

Datangnya musim penghujan, kata Denny, tentu menimbulkan banyaknya genangan air tempat berkembangbiaknya nyamuk jika masyarakat tidak memperhatikan lingkungan. 

"Seperti di kaleng-kaleng bekas, gelas plastik dan pot-pot yang terbuka menghadap ke atas ini berpotensi menimbulkan genangan air yang jadi tempat berkembangbiaknya nyamuk. Jika ini dibiarkan ya vektor DBD ini akan menyerang manusia, dan DBD bisa merebak lagi, " jelasnya. 

Pihaknya mengakui, hingga saat ini belum sepenuhnya mampu mengendalikan vektor nyamuk ini. Hal itu, tergantung pada kesadaran masyarakat dalam memperhatikan higienis sanitasi lingkungan.

"Yang paling penting dari penanggulangan DBD ini adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), bukannya fogging, " sebut Denny. 

Mengenai Fogging yang biasa dilakukan, sebenarnya bukanlah langkah yang bisa menanggulangi penyebaran DBD. Fogging ini, katanya, hanyalah satu dari sekian langkah untuk memenangkan masyarakat saja agar tidak resah dari merebaknya DBD di lingkungannya. 


Selama ini banyak anggapan masyarakat, kalau tidak dilakukan fogging maka tidak ada upaya penanganan DBD. 

"Padahal justru, inti penanganan merebaknya DBD ini adalah pemberantasan sarang nyamuk tadi. Dengan PSN, maka vektor penyebab DBD bisa diberantas, " tandasnya. 

Meski begitu, pihaknya tetap akan melakukan upaya fogging jika memang masyarakat dan lingkungan tersebut sangat membutuhkannya. (Nars) 

Diberdayakan oleh Blogger.