Ads Top

Miris, Tiga Bocah, Kakak Beradik, Jadi Pemulung untuk Beli Beras dan Bekal Sekolah

Fitri (12 tahun) temani ibunya menjadi pemulung untuk bantu ekonomi keluarga (foto: Nars) 

KUNINGAN - Kondisi Kabupaten Kuningan yang disebut-sebut sebagai kabupaten miskin ekstrem nampaknya terwakili oleh pemandangan miris di tengah Kota Kuningan. Ahad (26/12) siang sekira pukul 11:35 WIB, di pelataran parkir sebuah minimarket di Jalan Ir H Juanda, Kuningan, 3 anak usia Sekolah Dasar nampak sibuk mengais-ais tempat sampah. 

Mereka mencari sampah-sampah plastik bekas botol minuman dan gelas air mineral dan dikumpulkan ke dalam sebuah karung seukuran badan mereka. 

Saat dihampiri kuninganreligi.com, ketiga anak itu mengaku sedang memulung sampah untuk dijual lagi ke pengepul. 


Ketiga anak itu adalah Fitri Juliani (12 tahun), Febriani Erlangga (13 tahun) dan Fenta Agustina (9 tahun). Mereka adalah kakak beradik yang menemani ibunya bekerja sebagai pemulung saat tidak pergi sekolah karena libur. 

"Iya sekarang kan sedang libur sekolahnya, kami bersama ibu mencari sampah yang bisa dijual lagi, " ujar Fitri saat ditanya KR. 

Ia mengaku jika hari libur, mereka berangkat dari rumah yang berada di Desa Kedungarum, Kecamatan Kuningan, dari pukul 07:00 WIB. Mereka berjalan menyusuri tiap lokasi tempat sampah yang jadi langganan untuk mencari plastik-plastik bekas hingga ke daeah perkotaan Kuningan. 

"Paling jauh ke Jalan Siliwangi. Kalau tidak libur sih, berangkatnya sepulang Sekolah, kadang sampai malam. Tapi sekarang jarang kalau malam mah, " papar Fitri, diamini Sang Kakak yang terpaut satu tahun dengannya. 

Dalam sehari merongsok, jika pergi pagi pulang sore, Fitri mengaku bisa menjual plastik-plastik bekas hasil memulung sebesar Rp 12 ribu. 

Namun, jika sekolah tidak libur, mereka hanya mendapat setengahnya saja, karena berangkat siang. 

"Uangnya untuk membeli beras dan uang jajan bertiga di sekolah, " katanya. 

Sang kakak, ujar Fitri sekarang duduk di kelas 6. Ia sendiri duduk di bangku kelas 5, sedangkan Sang Adik baru kelas 3 SD. 

Orangtua mereka, imbuhnya, bukan tidak bekerja. Ayah mereka, diakuinya, bekerja di salah satu tempat usaha di Jalan Jenderal Sudirman. Sedangkan, Sang Ibu, ikut membantu ekonomi rumah tangga dengan merongsok bersama mereka. 


Meski jadi seorang pemulung, Fitri dan kedua saudara kandungnya ini mengaku tidak malu. Bahkan terkadang harus berhadapan dengan orang-orang yang memandang sinis terhadap mereka. 

"Pernah ada sih yang melarang kami waktu mengambil barang rongsokan, jika dilarang kami tidak ambil, " kata Fitri yang bercita-cita ingin meneruskan sekolah ke SMPN 1 Kuningan ini. (Nars) 

Diberdayakan oleh Blogger.