Ads Top

Kabalai TNGC: Penyadapan Pinus Bukan Inisiasi Kami, TN Tak Bisa Dipengaruhi Perusahaan Manapun


KUNINGAN - Rencana adanya kegiatan penyadapan getah Pinus di lahan TNGC yang mendapat penolakan dari beberapa aktivis lingkungan ditanggapi serius oleh Kepala Balai TNGC, Teguh Setiawan.
Kepada kuninganreligi.com, Teguh menegaskan bahwa adanya' informasi kegiatan penyadapan getah Pinus muncul dari banyaknya proposal pengajuan kegiatan penyadapan dari warga yang mengaku berasal dari sekitar kawasan TN.

"Kami perlu klarifikasi bahwa inisiasi penyadapan Pinus itu bukan dari TN. Ini adalah aspirasi dari masyarakat sekitar kawasan dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) yang didorong oleh pemerintahan desa," papar Teguh, Rabu (23/3).
Masyarakat, kata Teguh, memohon ke pihak TNGC untuk melakukan kegiatan pemungutan hasil hutan bukan kayu. Posisinya saat ini, proposal dari masyarakat tersebut belum bisa diterima pihak TN, dalam artian belum diakomodir.
"Karena pemungutan HHBK dari dalam kawasan BTNGC itu, bisa dilakukan dalam skema kemitraan konservasi di zona tradisional," sebutnya.
Baca juga:


Sementara, masih Teguh, zona tradisionalnya itu sendiri saat ini belum ada. Posisinya saat ini, pihak TN masih dalam tahap mengevaluasi kebenaran apa yang disampaikan warga dalam proposal yang diajukan mereka.
"Benar enggak sih seperti yang disebutkan bahwa ada  potensi sekian ribu batang di dalam kawasan TN. Benar enggak mereka adalah warga sekitar kawasan yang dulunya pernah terlibat dalam kegiatan Perum Perhutani, " ujarnya.
Saat ini, imbuhnya, masih diverifikasi TNGC apakah data-data yang disampaikan dalam proposal warga ini benar atau tidak.
Baca juga:


Dijelaskan, dalam menentukan keputusan kegiatan di lingkungan Ditjen KSDAE Kementerian LHK, pihaknya memegang teguh 5 prinsip, yakni prinsip regulasi atau dasar aturan. Kalau kegiatan itu melanggar aturan, tentu tidak bisa dilakukan.
"Kedua adalah Evidence Base, atau bukti-bukti resmi yang mendukung kegiatan tersebut bisa dilaksanakan," papar Teguh.
Prinsip ketiga yang dipegangnya adalah Experience Base, pengalaman, di tempat lain ada tidak yang melaksanakan kegiatan serupa.
Karena, sebutnya lagi, saat ini di Taman Nasional Halimun Salak, dan Gede Pangrango pun dilaksanakan kegiatan penyadapan getah Pinus ini.


"Yang keempat adalah Scientific Base, dasar keilmuannya apakah membenarkan kegiatan tersebut," katanya.
Kemudian, yang terakhir adalah prinsip kehati-hatian. Pihaknya tentu tidak sembarangan, misalnya sudah ada persetujuan (jika memang disetujui nantinya), maka akan disusun SOP yang terbaik agar pelaksanaan penyadapan ini bisa benar-benar memperhatikan konservasi lingkungan.
Pihaknya sangat menghargai kepada para aktivis lingkungan yang ikut mengawal masalah rencana penyadapan getah Pinus ini.
"Teman-teman LSM, penggerak lingkungan kalau ingin terjun langsung mengawal proses ini kita sangat menghargai. Karena fungsinya adalah mendampingi masyarakat untuk memberikan pemahaman konsekuensinya jika mereka melakukan penyadapan," paparnya lagi.
Soal tuduhan adanya perusahaan besar di balik rencana penyadapan getah Pinus di kawasan BTNGC ini, Teguh menegaskan tidak ada perusahaan apapun yang mengintervensi dan mendekati dirinya untuk membolehkan penyadapan.
"Kita pemerintah hadir untuk membantu masyarakat. Tidak ada hubungan TNGC dengan perusahaan-perusahaan yang disebut-sebut itu soal penyadapan getah Pinus ini," ungkapnya.
Dikatakan Teguh, yang mengajukan proposal kepada TNGC adalah masyarakat. Ia menyebut, tidak ada yang namanya PT Rinaya, atau PT apapun dalam soal isu penyadapan getah Pinus ini.

"TNGC tidak akan bisa dipengaruhi oleh perusahaan manapun, karena kami bermitra ya dengan masyarakat. Tujuan adanya TNGC adalah memberikan kesejahteraan untuk masyarakat dengan mengedepankan prinsip konservasi," pungkasnya. 
Sebelumnya, belasan aktivis AKAR Kuningan menyatakan penolakan secara tegas jika ada kegiatan penyadapan getah Pinus di dalam kawasan BTNGC. 
Mereka menilai adanya penyadapan getah Pinus di dalam kawasan BTNGC malah akan menambah kerusakan bagi lingkungan dan tidak sesuai dengan asas konservasi yang notabene harus dipegang teguh BTNGC. (Nars)

Diberdayakan oleh Blogger.