Ads Top

Moda transportasi delman di Kabupaten Kuningan sudah mulai tergusur zaman

Saya awali semua cerita ini dengan kata miris dan ironis. Ya, Kabupaten kuningan kehilangan jati diri dan identitasnya, mungkin bisa dikatakan sebagai kabupaten yang lupa akan sejarah. Baru baru ini saya dengar bahwa kuningan minim literasi kesejarahannya, krna salah satu faktornya adalah minim anggaran untuk penelitian riset sejarah kuningan.


Berkaitan dengan identitas kuningan, kami para kusir kuda punya sedikit cerita pilu. Kuningan tidak terlepas dari yang namanya kuda, baik itu di logo logo, pamflet, monumen kita bisa dengan mudah menemukan simbol simbol kuda di kuningan. Bahkan saking menempelnya kuda dengan kuningan sampai ada peribahasa, kecil kecil kuda kuningan.

Kami kusir kuda merupakan garda terdepan dalam mempertahankan eksistensi citra diri kuningan sebagai kota kuda. Memalukan rasanya jika dengan julukan kota kuda tapi cuma punya patung dan gambarnya saja di logo logo.

Kami sudah beradaptasi dengan perkembangan zaman, dari yg tadinya transportasi utama sampai tergeserkan jadi transportasi khusus untuk wisata kota. Kami kalah dengan hal yg serba online. Bukan kami tidak ingin berkolaborasi dengan perkembangan teknologi untuk mendukung kemajuan kami, tapi yaa kemampuan kami terbatas. 

Itulah kenapa saya meminta pemda memberikan perhatian kepada kusir kuda sebelum semuanya tinggal cerita bahwa kuningan pernah ada moda transportasi delman. Ada sebuah kekecewaan dan amarah kami yang pada akhirnya kita pasrah terhadap kebijakan pemerintah yang tidak adil bagi kita.

Setiap hari kami beroperasi di taman kota kuningan, hari sabtu dan minggu adalah hari istimewa bagi kami dimana pengunjung sedang ramai "maremaan" hari dimana kami melunasi utang yang kami pinjam untuk menutupi pemasukan yg kecil dari hari senin sampai jum'at. Namun ada hal yg membuat kami menggerutu kecewa sendiri.

"Keurmah" senen - jumat sepi, hari sabtu kita dipaksa tidak boleh narik krna ada acara BUBOS, katanya membuat pandangan tidak elok atau apalah itu, tidak hanya hari kemarin saja pernah terjadi juga sebelumnya. padahal kami sudah berusaha sedemikian rupa mempercantik tampilan delman dengan lampu lampu aksesoris yg biayanya kami pinjam dari tetangga.

Besar harapan kami pasca pandemi ini akan ada pemasukan lagi seperti dulu, tapi realita berkata lain. Hari sabtu malam saat ramai ramainya pengunjung, kami harus mematuhi aturan yang katanya harus bubar maksimal jam 9 menghindari kerumunan.

Tulisan ini adalah akumulasi dari banyak kekecewaan kami terhadap kebijakan, perlakuan pemda terhadap kusir kuda. Dalam Perbup No. 31 Tahun 2012 yang saya baca ada kewajiban pemda melakukan pembinaan terhadap kami, tapi yaa alhamdulillah ada program seragam untuk kusir saja kita harus beli baju seragamnya.

Ini cambukan keras dari kami, krna bansos satu kresek plastik saat penutupan tamkot waktu lalu pandemi itu tidak menutupi penderitaan kami, bahkan kalo bisa saya tukar satu kresek bansos itu dengan kebijakan yang pro terhadap kami, entah bicara dalam moda transportasi ataupun mendukung pariwisata kota.


Karena menurut pandangan kami, kalo harus melihat para delman kumpul di depan pemda dan kumpul di depan dprd teriak teriak itu terlihat tidak elok dan memalukan bagi citra diri kuningan. Maka dengan tulisan ini saya harap kedepan ada perbaikan perbaikan dalam segala hal, apalagi menyangkut urusan perut. Kami tunggu itikad baik dari pemda. Terimakasih.

Tulisan sesuai aslinya tanpa diedit.

Penulis: Arul Nasrullah, Ketua Pemuda Lebakkardin.

Diberdayakan oleh Blogger.