Ads Top

Ilustrasi sapi jenis Limosin yang biasa dipesan presiden untuk bantuan hewan kurban

KUNINGAN - Presiden Joko Widodo menitipkan 3 ekor sapi untuk pelaksanaan penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha 1443 nanti di salah seorang peternak yang ada di Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat.
Namun, 1 dari 3 ekor sapi calon kurban atas nama presiden diinformasikan terjangkit gejala Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang saat ini sedang ditakuti para peternak dan pedagang sapi di Indonesia.

Dilansir dari media televisi nasional, menyebutkan bahwa, Kepala Bidang Peternakan Sanggau, menyatakan salah satu sapi bantuan yang dititipkan presiden untuk warga di Kalbar memang terindikasi gejala PMK karena memiliki ciri-ciri fisik yang sesuai dengan gejala PMK.
Namun, disebutkan, sapi tersebut baru calon sapi kurban yang masih dalam tahap awal seleksi oleh sekretariat kepresidenan untuk bantuan atas nama presiden.
"Gejalanya sama dengan PMK, yakni mulut berbusa dan kaki ada luka. Kata peternak karena kelebihan makan kecap," terang Dadan Sumarna, Senin (16/5).
Terpisah, di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Tim Dokter Penanggulangan PMK Kuningan, drh Rofiq memberikan keterangan, hingga hari ini tercatat ada 7 ekor sapi di wilayah kerjanya yang terjangkit PMK.
Ketujuh ekor sapi tersebut berada di dua lokasi, yakni di Desa Cirukem, Kecamatan Garawangi dan di Desa Mandapajaya, Kecamatan Cilebak. Ketujuh ekor sapi ini berada di dalam perawatan pedagang bukandi tangan peternak.
"Sapi tersebut dibeli oleh pedagang dari Pasar Ternak Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Saat ini sedang dalam masa karantina, selama 14 hari karena khawatir menular ke sapi-sapi yang lain," kata Rofiq.
Penyebab gejala PMK ini, imbuhnya, adalah sejenis virus bernama Aphtaee epizootecae. Penyebarannya hampir mirip dengan Covid-19 pada manusia.
"Namun PMK ini tidak menular pada manusia dan tidak menimbulkan penyakit lain pada manusia. Tidak seperti anthrax yang bisa menular pada manusia, PMK hanya terjadi pada hewan," ujarnya.
Penularan PMK pada hewan ini dikatakan Rofiq sangat cepat sekali sama seperti halnya Covid-19. Makanya pihaknya segera melakukan upaya karantina pada hewan yang terkena gejala PMK agar tidak segera menular.
"Bisa 90-100 persen sapi di sekeliling suspek PMK ini tertular. Makanya harus segera dikarantina selama 14 hari," kata Rofiq.
Ditanya kekhawatiran para pedagang dan peternak sapi terhadap penyebaran PMK, Ia menyebutkan, selama ini di Kabupaten Kuningan, penyebaran PMK pada hewan relatif terkendali.
Kasus yang baru ada pun, yang 7 ekor sapi, segera ditangani dengan baik, sehingga tidak ada suspek lain.

"Alhamdulillah di Kabupaten Kuningan, penyebaran PMK relatif terkendali. Sapi yang terkena itu pun bukan berasal dari Kuningan, tapi dari luar dan segera bisa dikarantina," jelasnya lagi.
Kepada masyarakat pihaknya menghimbau apabila menemukan gejala PMK, seperti mulut berbusa (sama seperti gejala sariawan pada manusia) dan kuku hewan yang luka-luka, agar segera melaporkan ke aparat desa setempat untuk bisa ditangani oleh Tim Dokter Penanggulangan PMK Kuningan. (Nars)

Diberdayakan oleh Blogger.