Ads Top

Pengurus KSU Karya Nugraha Jaya Kabupaten Kuningan, Udir Sudirja

KUNINGAN - Ratusan pegawai koperasi yang menaungi para peternak sapi perah di Kabupaten Kuningan terancam dirumahkan akibat merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Hal itu menyusul koperasi serba usaha (KSU) yang menaungi para peternak mengaku keteteran dalam penanganan PMK di wilayahnya.

Pengurus KSU Karya Nugraha Jaya, Udir Sudirja, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (15/6) menyebutkan pihaknya saat ini sudah banyak keluar anggaran untuk membantu para peternak dalam pemberian obat-obatan dan upaya lain untuk menangani penyebaran PMK.


Anggaran terbesar yang dikeluarkan koperasi untuk penanganan PMK ini adalah untuk pembelian obat-obatan dan dua hari sekali harus ada penyuntikan di ribuan ekor ternak.

Pembelian obat dan vitamin itu, imbuhnya, murni dari anggaran koperasi, sedangkan dari peternak tidak ada penarikan biaya sedikitpun.

"Kalau kondisi PMK ini tidak segera ada penanganan dan berlangsung beberapa bulan lagi, maka kita khawatir bisa merumahkan ratusan karyawan kita atau menonaktifkan sementara mereka, karena kondisi keuangan kita yang terpakai habis untuk penanganan PMK ini," papar Udir.

Kondisi tersebut diperparah oleh menurunnya produksi susu per hari yang dihasilkan dari para peternak akibat wabah PMK ini. 

"Yang biasanya per hari kita bisa produksi 35 ribu liter per hari, hingga saat ini hanya bisa memproduksi 24 ribu liter saja per hari, turun sekira 11 ribu literan," ujarnya.

Saat ini, pihaknya berharap pada sebagian peternakan yang masih belum terpapar PMK, untuk bisa bertahan, agar bisa tetap produktif.

"Kita berharap pada sebagian daerah yang masih hijau (zona hijau PMK) agar segera mendapat kiriman vaksin untuk menambah kekebalan tubuh ternak dari PMK. Karena bagi peternakan yang sudah terpapar, bisa dipastikan seluruhnya pasti akan tertular," katanya.

Sementara, Ketua Satgas Tim Penanggulangan PMK KSU Karya Nugraha, Jhonais, saat dimintai keterangan mengatakan hingga hari ini di Kecamatan Cigugur sudah terhitung ada 1.615 ekor Sapi Perah terpapar PMK.

"Dari data Diskanak sendiri untuk keseluruhan wilayah Kabupaten Kuningan, sapi yang terpapar ada 1.667 ekor. Untuk di Cigugur sendiri ada 1.615 ekor," terangnya.

Tim Satgas Penanganan PMK Cigugur, sebutnya, sudah melakukan penanganan semaksimal mungkin untuk mengurangi dampak penyebaran PMK.

"Ini jelas mengakibatkan dampak besar untuk perekonomian masyarakat peternak, karena banyaknya sapi yang terpapar baik indukannya maupun anakan. Jika anakan (pedet) nya sudah terkena, maka kedepan dikhawatirkan tidak ada lagi pengganti indukan untuk produksi susu," paparnya.


Pihaknya menyebutkan, sangat menunggu upaya pemerintah dalam membantu penanganan PMK untuk para peternak.

"Ya kalau bisa ada semacam BLT untuk para peternak yang memang sangat terdampak. Kalau bisa dahulukan yang peternak kecil," katanya.

Juga, Ia berharap ada upaya pemerintah untuk mempermudah relaksasi pembayaran utang para peternak kepada perbankan.

Sementara, Diskanak Kuningan mengaku sudah berkoordinasi dengan Forkopimda Kuningan untuk segera menganggarkan BTT dari Pemkab Kuningan agar penanganan PMK bisa lebih maksimal.

Hingga saat ini ada 18 kecamatan di Kabupaten Kuningan yang terpapar PMK, 5 kecamatan dinyatakan sudah teratasi dan 13 kecamatan masih terjangkit. 

Dari data terbaru PMK di Kuningan, per 14 Juni, tercatat ada 1.657 suspect sapi potong dan perah terpapar, yang dinyatakan sakit 1.251 ekor, sembuh 310 ekor, dipotong bersyarat 79 ekor dan mati 47 ekor. (Nars)

Diberdayakan oleh Blogger.