Ads Top

Wajah Gedung Pemerintahan Desa Kertayasa, Kecamatan Sindangagung tampak depan

KUNINGAN - Jika tempat lain kebingungan dengan menumpuknya sampah yang diproduksi setiap hari dari rumah tangga, namun bagi Desa Kertayasa Kecamatan Sindangagung Kabupaten Kuningan malah mengaku sangat "membutuhkan" sampah. Lho kenapa?

Kepala Desa Kertayasa, Arif Amarudin, saat dikonfirmasi soal pengelolaan sampah di desanya memang mengakui bahwa pihaknya "kekurangan sampah". Malahan sebagian warganya sering "berebut" sampah yang dihasilkan dari rumah-rumah warga.

"Ini karena kami sedang menanamkan upaya pengelolaan sampah kepada warga yang ternyata bisa menambah penghasilan mereka," ucap Kades Kertayasa, Selasa (7/6).


Usai agenda sosialisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS-3R) yang disampaikan Staf Khusus Kementerian Lingkungan Hidup di Aula Kantor Desa setempat, Arif mengaku bersyukur dan menyambut baik program tersebut.

Meski pihaknya telah melangkah untuk menangani sampah secara kolaboratif yang melibatkan seluruh komponen masyarakat, Program TPS-3R yang diterima Desa Kertayasa dari pemerintah, diakuinya sangat membantu.

"Program TPS-3R ini tentunya sangat ditunggu masyarakat kami. Jujur, permasalahan sampah ini sangat pelik sekali bagi tiap desa di Kabupaten Kuningan," terangnya.

Guna menunjang penanganan sampah ini, pihaknya menangkap program dari Kementerian LHK. 

Baca juga:

"Untuk Desa Kertayasa sendiri, kita memang menginginkan program TPS-3R ini karena kita sudah membuat embrio terkait pengelolaan sampah ini sebelumnya," ucapnya.

Sampah yang dihasilkan masyarakat, imbuhnya, 60 persen diantaranya adalah berupa sampah organik. Sampah organik ini, di Desa Kertayasa sudah berjalan pengolahan dengan cara dibuat pakan Maggot BSF.

Untuk sampah anorganik yang ada, di masyarakat Desa Kertayasa sudah berjalan pengolahannya menjadi berbagai produk kerajinan.

"Nah, untuk pengelolaan sampah residu yang tidak bisa diolah dan dijual, kita memang membutuhkan satu tempat pengolahan khusus," ujar Arif.

Pihaknya menyambut baik adanya sosialisasi tahapan pertama soal TPS-3R di desanya yang juga menghadirkan istri Wakil Bupati Kuningan, Yoana Ridho Suganda sebagai narasumber.

Sosialisasi tersebut merupakan tahapan yang harus dilakukan sebelum terbit Surat Perjanjian Kerjasama soal program TPS-3R ini.

"Kita hanya mempersiapkan lahan seluas 300 meter persegi yang nantinya melalui bantuan TPS-3R ini akan dibangun Tempat Pengolahan Sampah 3R," sebutnya.

Terpisah, Yoana Ridho Suganda, saat memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengatakan persoalan sampah bisa jadi bahaya laten bagi masyarakat jika tidak segera ditangani secara tepat.

"Sampah diproduksi setiap hari, sementara alat untuk mengkonversi sampah menjadi nilai rupiah masih jauh panggang dari api. Sehingga, kita perlu meningkatkan kreatifitas dalam pengolahan sampah atau daur ulang. Caranya bisa secara tradisional seperti pilah sampah dari rumah tangga dengan cara modern," paparnya.

Jika dirinci, imbuhnya, sampah anorganik seperti plastik bening, kresek, kertas, logam, kaca, kain baju dan seterusnya. Maka berapa kg yang bisa dijual secara langsung, dan berapa yang akan menjadi residu. 


"Artinya yang tidak dapat dijual sama sekali. Sehingga sampah ini yang menjadi persoalan laten di tengah-tengah masyarakat,” terangnya.

Masih kata Yoana, sampah organik seperti sisa makanan secara tradisional bisa untuk makanan ayam, kambing. Sedangkan daun-daunan dan ranting bisa langsung dikompos atau disimpan di sekeliling pohon. Itu bisa langsung jadi pupuk. Sedangkan kulit buah-buahan, bisa diolah menjadi eco enzim. (Nars)

Diberdayakan oleh Blogger.