Ads Top

Sempat Diisukan Ditolak di Jonggol, UAS Ditunggu Ribuan Jamaah di Kuningan dari Ashar, Tak Ada Radikal dalam Ceramahnya

Penceramah Ustadz Abdul Shomad saat tampil di Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya Kabupaten Kuningan, Sabtu (18/6)

KUNINGAN - Penceramah Ustad Abdul Shomad (UAS) yang sempat viral diberitakan ditolak sebagian komponen warga untuk ceramah di Jonggol, Kabupaten Bogor, sudah ditunggu ribuan jamaah tholabul Ilmi di Kabupaten Kuningan, pada Sabtu (18/6).

Bahkan jamaah terlihat sudah menunggu kehadiran UAS sejak waktu Ashar. 


Saat tampil di depan ribuan jamaah di halaman Masjid Daarul Falaah, Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan pada Sabtu (18/6) malam, UAS sempat menanyakan kehadiran ribuan jamaah yang memadati seluruh jalan di desa tersebut.

"Dari depan sana Saya kira itu lokasi ceramah Saya karena sudah banyak jamaah, ternyata di sini tempatnya. Alhamdulillah, katanya ada yang menunggu sejak Maghrib tadi," kata UAS dalam ceramahnya.

Mendengar hal tersebut, jamaah menimpali ucapan UAS, bahwa mereka hadir sejak Ashar, malah sebagian ada yang mengatakan sejak Dzuhur mereka sudah menunggu.

Dalam isi ceramahnya, UAS membahas 5 point' penting yang jadi tema seperti terpampang dalam backdrop panggung. Kelima point' tersebut diuraikan UAS satu persatu dan tak ada satu kalimat pun yang bernada radikal seperti yang banyak disangkakan sebagian orang yang menilai isi ceramahnya.


Pertama, UAS malah membahas soal pentingnya persatuan bangsa.

"Kita bisa bersatu kalau kita melihat kesamaan-kesamaan di antara kita. Manusia semua berasal dari tanah, sama-sama Muslim, sama -sama NKRI dan sama sama manusia," kata UAS.

Maka, imbuhnya, enggak ada beda antara orang Arab dan non Arab, antara yang kulit putih dan kulit hitam, semua dari (keturunan Nabi) Adam, dan Adam (diciptakan) dari tanah.

"Lalu apa yang harus Kita banggakan? Semua kita akan kembali ke dalam tanah (meninggal dunia) maka sebelum meninggal kita harus banyak-banyak bawa bekal (amalan) seolah-olah kita akan mati besok," tambah UAS.

Disambungnya, sejatinya rumah kita bukan di sini tapi nanti di alam baqa. Karena tak seorangpun yang tahu kapan kita akan kembali kepada-Nya.

"Allah tidak melihat bagaimana rupamu tapi melihat hati kamu yang tulus suci dan bersih serta amalan-amalan kamu," katanya lagi.

Kita Bangsa Indonesia, ujarnya, adalah yang bangsa yang  paling baik dalam menjaga persatuan.

"Jamaah, tolong jangan potong ceramah Ustad Abdul Shomad. Jamaah jangan mau terima potongan-potongan ceramah saya, kalau terima potongan-potongan, lewatkan saja, tonton yang asli, ada di channel YouTube Ustadz Abdul Shomad Official," sebut ulama yang bergelar Profesor Doktor ini.

Berbicara soal NKRI, UAS menggambarkan tentang Benua Afrika, yang merupakan satu daratan yang memiliki puluhan negara. Tapi Republik Indonesia, meski ada ratusan ribu  pulau tapi semua bisa bersatu dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.


"Apa yang membuat kita bersatu? Yang membuat kita bersatu adalah mengusir penjajah dan teriakannya sama "Allahu Akbar"," seru UAS

Dikatakannya, para pahlawan seperti Teuku Umar, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Pangeran Antasari, walaupun bahasa daerahnya beda, sukunya beda, tapi musuhnya sama, semua berteriak Allahu Akbar saat mengusir musuh penjajah.

"Dengan teriakan Allahu Akbar inilah kita merdeka, itulah kenapa dalam pembukaan UUD kita ada kalimat Atas berkat Rahmat Allah," ucap UAS.

Menurutnya, NKRI ini dari mulai ujung barat ke timur dijaga dengan kalimat "Laa Ilaha Illallaah Muhammadan Rasulullah".

"Tapi bukan berarti saudara-saudara kita yang lain tidak berjuang. Mereka berjuang dengan keyakinan masing-masing," tandasnya.

Ustad yang juga sempat diberitakan ditolak kedatangannya di Singapura ini menyebutkan bahwa adil itu adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya.

"Bersikap adillah kamu kepada anak-anakmu. Kalau ada yang disekolahkan tinggi maka semuanya harus disekolahkan tinggi. Karena tidak bersikap adil bisa memutuskan silaturahmi," katanya lagi.

Lawan sikap adil, sebutnya, adalah dzhalim (aniaya). Ia meminta semua pihak jangan sampai dzhalim karena sesungguhnya kedzaliman itu akan jadi satu kegelapan di hari kiamat

"Jadi apapun kita mesti adil. Bersikap adil lah maka ia mendekatkan kepada taqwa," ungkapnya.

Poin keempat yang dibahas dalam ceramahnya, UAS menyebutkan kalau sudah adil pasti makmur, kalau tidak makmur berarti tidak adil.

"Jika kita masih melihat ada orang fakir, miskin, melarat padahal negeri ini kaya raya, berarti tidak adil," tuturnya.


Usaha ummat agar bisa tercipta satu kemakmuran, yang bisa dilakukan adalah melalui pendidikan. 

"Makmur itu apanya? Kalau bicara makmur soal materi, Amerika paling makmur, tapi angka bunuh diri terbesar ada di Amerika. Kalau bicara makmur itu tentang alam teknologi maju maka Jepang paling makmur, tapi orang Jepang banyak yang mudah putus asa, kalau dia depresi stress dengan mudahnya harakiri," bebernya.

Kemakmuran itu menurut UAS harus seimbang, antara hal yang bersifat Dzahir dengan kemakmuran Bathin.

"Ala bidzikrillahi tathmainnul quluub. Hidup ini kalau dipikirkan bisa pecah kepala, maka serahkan semuanya kepada Allah SWT. Tapi setelah ada usaha dan ikhtiar," sebut UAS.

Lalu, point terakhir, UAS bicara soal martabat. Menurutnya, manusia dihormati orang lain jika punya martabat.


"Ruthbah , artinya kedudukan yang tinggi. Martabat ini, kata UAS bukan hanya bicara soal banyaknya harta dan tingginya jabatan. Tapi martabat seseorang terlihat dari Akhlakul Karimah yang dimilikinya.

Upaya orang tua agar anak-anak mereka kelak bisa jadi orang bermartabat adalah dengan menanamkan cinta pada Allah kepada anak untuk bisa menolong Agama Allah.

"Kalau kita sendiri tidak bisa bermartabat maka didik anak kita agar bisa bermartabat.

Agama ini ditolong dengan kekuasaan dari atas dan didorong dari bawah dengan dakwah tausiyah ceramah dan pengajian," pungkas UAS dalam ceramahnya.


Saat tampil di depan ribuan jamaah di Desa Cikaso ini, UAS membawakan ceramah dalam waktu sekira 75 menit. Dalam ceramah tersebut UAS nampak mengenakan jas yang menurutnya adalah pemberian dari panitia Tabligh Akbar.

Kegiatan tabligh akbar ini merupakan Tabligh Akbar yang menghadirkan ribuan jamaah pertama kali sejak Kabupaten Kuningan terdampak Pandemi Covid-19 dua tahun terakhir.

Bupati Kuningan, Acep Purnama nampak tidak hadir dalam agenda tersebut. Acep diwakili oleh Camat Kramatmulya dalam penyambutan UAS di Desa Cikaso. (Nars)

Diberdayakan oleh Blogger.