Ads Top


Warga Kelurahan Cipari sedang menguburkan seekor sapi yang terpapar PMK, videonya mengundang perhatian warganet, Rabu (22/6)

KUNINGAN - Pada Rabu (22/6) sore, potongan video seekor sapi yang mati akibat terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menghebohkan media sosial Warga Kuningan. Dalam video berdurasi 30 detik, sapi yang berukuran besar tersebut nampak sedang dikuburkan oleh 8 orang di sebuah perkebunan.
Keempat kaki sapi ini terlihat diikat oleh tambang dan dimasukkan ke batang bambu. Saat mau dikuburkan, bambu yang diduga jadi alat memikul sapi ini dilepaskan.

Beberapa orang terlihat menggulingkan badan sapi besar itu ke dalam lubang yang sudah disediakan untuk menguburkannya.
"Sapinya milik peternak bernama Ibor, sayangnya, sapi itu sedang bunting 7 bulan," terang warga Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan dalam unggahan videonya.
Kematian sapi di Kabupaten Kuningan akibat merebaknya penyakit mulut dan kuku terus bertambah jumlahnya. Hingga Selasa (21/6), jumlah sapi perah yang mati akibat terpapar PMK di Kecamatan Cigugur saja sudah mencapai 92 ekor. Dari jumlah tersebut, tercatat 8 sapi indukan dan sisanya adalah jenis pedet (anak sapi).
Sementara, dari data petugas Satgas  Penanganan PMK di Kecamatan Cigugur itu, jumlah sapi perah yang terduga positif PMK (hasil diagnosa klinis) berjumlah 2.446 ekor, yang afkir (dipotong bersyarat) 166 ekor dan yang sembuh ada 660 ekor.
Ketua Komisi 2 DPRD Kuningan, Muhammad Apip Firmansyah, saat dikonfirmasi terkait perkembangan kondisi PMK di Kabupaten Kuningan menyebutkan bahwa pernyataan pemerintah daerah yang melihat situasi penyebaran PMK ini bukan Kejadian Luar Biasa (KLB), adalah hal yang tidak tepat.
"Melihat terus menyebarnya PMK ini di kandang para peternak dan langkanya obat-obatan, vitamin, apalagi belum adanya vaksin, dari awal Saya sudah menyampaikan ini sudah termasuk Kejadian Luar Biasa," jelasnya, Rabu sore.
Pihaknya juga menyebutkan, adanya 70.000 dosis vaksin yang disebarkan di wilayah Jawa Barat oleh Pemerintah Provinsi, hingga hari ini Ia belum mendapatkan kabar, apakah Kuningan termasuk daerah yang akan mendapatkan vaksin itu.
"Hingga hari ini belum ada informasi apakah Kuningan masuk daftar wilayah yang akan mendapatkan vaksin PMK ini dari pemerintah provinsi," ujarnya
Pihaknya tetap akan meminta pemerintah untuk segera serius menangani penyebaran PMK ini dengan menganggarkan BTT yang sudah diusulkan sebesar Rp 500 juta.
Besaran nominal anggaran ini dibutuhkan untuk biaya pembelian obat-obatan, vitamin, serta upaya lain untuk mengatasi dampak penyebaran PMK di Kabupaten Kuningan.
Terpisah, seorang peternak yang mengaku bernama Ari, warga Kecamatan Cigugur, mengatakan kondisi penyebaran PMK di wilayahnya memang sudah sangat mengkhawatirkan.
"Setiap hari itu ada saja sapi yang mati, bahkan bisa 3-4 ekor dalam sehari. Jika tak segera bisa diatasi mungkin lama-lama bisa habis sapi kami," ujarnya
Ia menyebutkan saat ini stok obat-obatan dan vitamin sudah menipis bahkan tak ada sama sekali. Para peternak hanya bisa berupaya semampu mereka untuk mengobati sapi-sapi yang sakit dengan obat-obatan tradisional.

"Belum lagi, akibat menurunnya produksi susu, pendapatan kami jelas terimbas, bahkan tak bisa mendapatkan susu sama sekali dalam sehari," ungkapnya.
Akibat tak adanya pendapatan inilah, Ia meminta agar pemerintah bisa memberikan fasilitas kepada para peternak untuk bisa menangguhkan atau meringankan pembayaran cicilan utang kepada perbankan.
Sementara, Kadis Perikanan dan Peternakan, Dadi Hariadi, saat dihubungi wartawan melalui sambungan seluler, untuk menanyakan kemajuan penanganan PMK di Kabupaten Kuningan, hingga Rabu petang, belum juga memberikan jawaban. (Nars)

Diberdayakan oleh Blogger.