Ads Top

Yanuar Prihatin: Sistem Pemilu Proporsional Tertutup, Musibah Bagi Demokrasi

Anggota DPR RI, Fraksi PKB, Yanuar Prihatin 

KUNINGAN - Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Yanuar Prihatin menyebutkan secara pribadi maupun kepartaian, dirinya dengan tegas menolak adanya rencana perubahan aturan sistem Pemilu dari sistem proporsional terbuka ke sistem proporsional tertutup.


Menurut Yanuar, sistem Pemilu dengan proposional tertutup akan menghilangkan kompetisi sesama kader partai yang mengakar ke bawah.



" Maka akan melahirkan para politisi yang lebih mengakar ke atas daripada ke bawah juga dimanfaatkan oleh kader partai politik yang berjiwa oportunis, elitis dan tidak mampu berkomunikasi dengan publik," kata Yanuar, Kamis (05/01/2022) kemarin.


Jika dilaksanakan, sistem pemilu proporsional tertutup ini, imbuhnya, maka sistem oligarki yang sempat berlaku pada zaman Orde Baru akan kembali terjadi. 


"Jika ada pihak yang mengusulkan sistem proporsional tertutup. Maka, akan membawa musibah dan kecelakaan dalam demokrasi," tandas Yanuar.


Pihaknya mengharapkan agar Mahkamah Konstitusi (MK) tidak turut melegalisasi sistem tertutup tersebut, karena akan memperkuat keinginan mereka-mereka yang otoriter.


"Bagi partai politik yang punya tradisi komando yang kuat dan sedikit otoriter, sistem pemilu proposional tertutup ini lebih disukai. Dan sistem seperti ini menjadi peluang karir terbesar untuk kader partai politik dengan karakter tersebut," paparnya.


Sistem proporsional tertutup, sambung dia, bisa dimanfaatkan oleh kader partai politik yang berjiwa oportunis, elitis dan tidak mampu berkomunikasi dengan publik.


"Jangan bermain-main dengan sistem kepemiluan yang sudah ada di Indonesia. Jika ingin kegairahan dan partisipasi politik rakyat yang sudah terjadi melalui sistem pemilu proporsional terbuka, hilang karena sistem Pemilu tertutup," gamblang Kader Nasional Partai Kebangkitan Bangsa ini.



Investasi masyarakat dalam menumbuhkan kegairahan dan partisipasi politik rakyat, imbuhnya, sudah sangat bisa memperkuat hubungan timbal balik antara rakyat dan wakilnya.


"Hal ini sudah sangat membangun budaya kompetisi yang masih terukur," jelasnya. (Nars)

Diberdayakan oleh Blogger.